
Temuan ini memperkuat kaitan dengan fenomena ghost fishing gear atau alat tangkap ikan yang hilang, rusak, atau dibuang ke laut (Abandoned, Lost, or Discarded Fishing Gear/ALDFG). Dengan kata lain, aktivitas perikanan turut menyumbang polusi mikroplastik di laut dalam.
Lebih jauh, Reza menjelaskan bahwa mikroplastik bukanlah polutan pasif. Partikel ini dapat berinteraksi kompleks dengan komponen biogeokimia laut dan berperan dalam pembentukan “marine snow” — gumpalan partikel organik dan anorganik yang jatuh ke dasar laut.
Plastik yang ikut tenggelam bersama marine snow dapat membawa polutan lain seperti logam berat, sehingga mengganggu “sabuk konveyor karbon” laut. Akibatnya, kemampuan laut dalam menyerap karbon bisa berkurang, yang pada gilirannya berpotensi mengganggu sistem pengaturan iklim global.
Mikroplastik juga mengancam biota laut dalam karena dapat mengurangi asupan energi, mengubah perilaku makan, serta memicu bioakumulasi toksin dalam rantai makanan.
“Temuan ini membuktikan bahwa tidak ada lagi bagian laut yang benar-benar bebas dari polusi plastik, bahkan di kedalaman ratusan meter sekalipun,” tegas Reza.
Ia juga menyerukan agar ekosistem laut dalam segera dimasukkan ke dalam penilaian global polusi plastik, termasuk dalam perundingan UN Global Plastic Treaty yang saat ini tengah berlangsung.
Penelitian pionir ini membuka babak baru dalam pemahaman ilmiah tentang dampak mikroplastik terhadap sistem biogeokimia laut.
Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa sampah plastik yang dibuang ke laut tidak pernah benar-benar hilang — sebagian tenggelam, menjadi bagian dari rantai makanan, dan pada akhirnya bisa kembali ke meja makan manusia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















