
Sebagai upaya nyata, Kementerian Lingkungan Hidup bersama masyarakat, PTPN dan KSO melakukan penanaman 15 ribu pohon secara serentak di kawasan hulu Sungai Ciliwung. Aksi ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat resapan air dan menstabilkan fungsi ekologi di kawasan puncak
“Ada hampir 700 meter persegi embung dengan kedalaman tertentu yang harus kita bangun di titik-titik kulminasi air yang mengalir ke Sungai Ciliwung. Ini memerlukan kerja keras kita semua,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah, mulai dari Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok, hingga Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Upaya di wilayah hulu seperti Megamendung dan Cisarua dinilainya sangat menentukan keberlangsungan ekosistem di wilayah hilir.
Selain itu, kata Hanif, pendekatan berbasis ekologi juga akan terus diperkuat. Untuk itu ia menyebut bahwa pemberian sanksi terhadap pelanggaran lingkungan akan dievaluasi agar berfungsi sebagai pemicu perubahan perilaku dan kebijakan yang lebih berkelanjutan.
“Kita harus meletakkan persoalan lingkungan pada asas yang benar. Pelaku usaha di kawasan puncak wajib menginvestasikan keberlanjutan dengan mengembalikan fungsi tata lingkungan, terutama hidro-orologis kita,” tegasnya.
Dengan ditetapkannya 53 Komunitas Ciliwung, pemerintah berharap setiap segmen dan lekukan Sungai Ciliwung memiliki penjaga dan pengampu yang aktif dalam pelestarian sungai.
“Kami akan mendukung penuh langkah yang dilakukan komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembalikan Sungai Ciliwung. Hulu DAS ini sangat penting dan menjadi perhatian kita semua,” pungkasnya.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















