Waspadai Sumbatan Usus, Kondisi yang Umum Terjadi Namun Bisa Berakibat Fatal

Usus
Ilustrasi Usus. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Kondisi sumbatan usus kembali menjadi sorotan publik setelah kabar meninggalnya Marojahan Sintong Sijabat, ayah dari YouTuber Jerome Polin.

Meski tidak membahas kasus spesifik tersebut, para ahli menegaskan bahwa sumbatan usus (obstruksi usus) adalah kondisi medis serius yang dapat dipicu oleh berbagai penyebab.

Menurut Prof Ari Fahrial Syam, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), sumbatan usus dapat terjadi akibat kanker usus, perlengketan, atau penumpukan kotoran yang tidak dapat keluar.

Gangguan pada pembuluh darah yang memasok usus juga dapat menjadi pencetus sumbatan.

Penyebab Sumbatan Usus Beragam

Prof Ari menjelaskan bahwa sumbatan dapat muncul akibat beberapa mekanisme, seperti:

  1. Kanker atau Perlengketan Usus

Kondisi pasca operasi atau infeksi dapat menimbulkan perlengketan (adhesi), yang kemudian menghambat pergerakan isi usus.

  1. Feses yang Mengeras

Penumpukan kotoran yang sangat keras dapat menyumbat saluran pencernaan, terutama pada orang yang kurang minum, kurang serat, atau jarang bergerak.

  1. Gangguan Pembuluh Darah
BACA JUGA :  Waspadai Tanda-Tanda Korsleting Listrik di Rumah, Kenali Gejalanya Sebelum Terjadi Kebakaran

Sumbatan di pembuluh darah yang menuju usus dapat menyebabkan pergerakan usus melemah, memicu penyumbatan, dan berisiko menyebabkan kematian jaringan usus (nekrosis).

“Bisa itu sumbatan pada pembuluh darah sehingga usus relatif tidak bergerak. Untuk waktu tertentu sumbatan bisa terjadi,” ujar Prof Ari.

  1. Hernia Inguinalis

Kondisi ketika sebagian usus menonjol keluar melalui celah lemah di dinding perut. Jika terjepit di luar, aliran darah dapat terganggu dan menyebabkan sumbatan yang berbahaya.

Kondisi yang Umum Terjadi, Tapi Butuh Penanganan Cepat

Prof Ari menegaskan bahwa kasus sumbatan usus sebenarnya cukup umum ditemukan di rumah sakit. Namun, yang membuatnya berbahaya adalah keterlambatan diagnosis dan penanganan.

Jika dibiarkan, usus yang tersumbat berisiko mengalami nekrosis, yaitu kematian jaringan. Pada kondisi tersebut, dokter harus membuang bagian usus yang rusak melalui prosedur operasi.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Tegaskan Skywalk Tegar Beriman Simbol Kolaborasi dan Infrastruktur Inklusif

“Kalau sudah mati, artinya sudah nekrosis, dan itu akan dibuang,” jelasnya.

Karena itu, penanganan obstruksi usus hampir selalu membutuhkan operasi atau laparotomi untuk mengangkat penyebab sumbatan dan mencegah komplikasi serius.

Risiko Meningkat Seiring Usia

Seiring bertambahnya usia, risiko mengalami sumbatan usus semakin tinggi. Lansia lebih rentan karena pergerakan usus cenderung melambat, fungsi organ menurun, dan kemungkinan mengalami hernia atau penyakit penyerta lebih besar.

“Risiko pada orang semakin lanjut usia, risiko untuk terjadinya obstruksi juga semakin meningkat,” tegas Prof Ari.

Sumbatan usus adalah kondisi serius yang tidak boleh disepelekan. Gejalanya dapat berupa nyeri perut hebat, muntah, kembung, sulit buang angin, hingga perubahan warna kulit. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, segera cari pertolongan medis.

Semakin cepat sumbatan terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang pasien untuk pulih tanpa komplikasi berat.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================