Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Wafat: Penjaga Harmoni Keraton Surakarta Berpulang di Usia 77 Tahun

Penobatan 10 September 2004: Dukungan Mengalir untuk Hangabehi

Walau diterpa konflik, Hangabehi tetap menjalankan penobatan pada tanggal yang telah ditetapkan. Di Bangsal Manguntur Tangkil, Sitihinggil Lor, upacara berlangsung khidmat, disaksikan bangsawan, cucu-cucu PB XII, serta perwakilan kerajaan Nusantara. Tiga sesepuh keraton memberi restu, menegaskan Hangabehi sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII yang sah.

Memulihkan Martabat Keraton

Mewarisi keraton yang terpecah bukan tugas mudah. Tapi PB XIII melakukannya dengan keteguhan dan kelembutan. Ia tetap menjalankan upacara adat, menjaga seni tari klasik, dan membina abdi dalem agar tradisi Mataram tidak tergerus zaman.

Salah satu momen monumental terjadi pada Jumenengan 2009, ketika tarian sakral Bedhaya Ketawang kembali dipentaskan untuknya. Tedjowulan hadir dalam upacara itu, menjadi isyarat halus menuju perdamaian.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Cetak Sejarah, Rapat Paripurna HJB ke-544 Digelar di Pelosok Kabupaten Bogor

Rekonsiliasi 2012: Keraton Kembali Satu

Upaya perdamaian benar-benar terwujud pada 2012 melalui mediasi DPR RI, Pemerintah Kota Solo di bawah kepemimpinan Joko Widodo, dan keluarga besar keraton. Tedjowulan secara resmi mengakui Hangabehi sebagai Pakubuwono XIII dan menerima gelar KGP Haryo Panembahan Agung, sekaligus menjabat Mahapatih.

Kesepakatan ini menjadi tonggak penting pemulihan wibawa dan persatuan Kasunanan Surakarta.

Warisan PB XIII: Ngayomi dan Menyatukan

Selama masa pemerintahannya, PB XIII dikenal sebagai sosok sederhana, welas asih, dan merangkul semua golongan. Ia memadukan ketegasan raja dengan kehangatan seorang penjaga tradisi leluhur. Di bawah kepemimpinannya, keraton kembali tegak sebagai pusat kebudayaan Jawa.

BACA JUGA :  Penjaga Warung Madura di Gunung Putri Diduga Ditodong Senpi

Wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan besar: tentang pentingnya ngayomi, melindungi dan mempersatukan. Ia tidak hanya meninggalkan istana yang kembali damai, tetapi juga teladan tentang menjaga harmoni dan martabat budaya Jawa di tengah derasnya perubahan zaman.

Selamat jalan, Kanjeng Sinuhun. Warisanmu tetap hidup dalam budaya, tradisi, dan hati masyarakat yang engkau ayomi.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================