Fatherless, Ketika Ada Tapi Tak Hadir

Fatherless
Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)

FENOMENA fatherless kini menjadi perhatian serius Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Muti. Muti menyoroti kian banyak anak Indonesia yang tumbuh tanpa kehadiran nyata seorang ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan karena sang ayah telah tiada, melainkan karena kehadirannya hanya bersifat fisik. ada di rumah, tetapi jiwanya tertinggal di ruang kerja, rapat, atau lalu lintas kota yang menelannya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak ayah kehilangan perannya sebagai pusat nilai dan kehangatan keluarga.

Anak-anak tumbuh bersama layar, bersama ibu, bersama sistem sekolah, tetapi tidak bersama ayah yang seharusnya menjadi jangkar emosional mereka.

Fenomena ini bukan sekedar persoalan keluarga, tetapi potret pergeseran sosial yang mengubah makna kehadiran manusia itu sendiri.

Keluarga Modern dan Senyapnya Kehangatan

Dalam kacamata sosiologi, keluarga modern menghadapi paradoks bahwa  semakin makmur secara material, semakin lemah secara emosional. Urbanisasi, mobilitas kerja, dan tekanan ekonomi menciptakan jarak sosial di dalam rumah.

Waktu makan bersama berganti dengan meeting online, percakapan hangat digantikan notifikasi pesan yang sibuk. Ayah hadir secara administratif, tetapi absen secara emosional.

Modernitas telah menciptakan keluarga yang fungsional, tetapi kehilangan rasa. Keluarga tak lagi menjadi ruang reproduksi nilai, melainkan sekedar tempat transit antaraktivitas.

Dalam masyarakat seperti ini, kehadiran ayah sering kali tersubstitusi oleh sistem pendidikan, media digital, bahkan figur publik yang mengisi ruang kosong batin anak.

BACA JUGA :  Kemensos Akui Sekolah Rakyat Masih Kekurangan Guru dan Asrama

Di sinilah modernitas menjadi paradoks yang menjanjikan kesejahteraan, namun menciptakan kesepian struktural.

Tekanan Ekonomi dan Budaya Maskulinitas

Di balik fenomena fatherless, terdapat faktor ekonomi yang kuat. Kota-kota besar menuntut kerja panjang, produktivitas tinggi, dan persaingan tanpa henti. Bagi banyak ayah, waktu merupakan komoditas langka yang harus diperdagangkan demi stabilitas keluarga.

Di pihak lain dalam logika kapitalistik ini, makna kehadiran bergeser yakni semakin lama di luar rumah dianggap semakin bertanggung jawab.

Disisi lain budaya patriarki menambah lapisan ironi. Maskulinitas didefinisikan oleh kerja keras, bukan kelembutan, oleh ketegasan, bukan keterlibatan.

Seorang ayah merasa cukup bila mampu memberi nafkah, tanpa sadar bahwa yang lebih dibutuhkan anaknya adalah sentuhan, cerita, dan perhatian.

Dalam kerangka sosiologis, hal ini merupakan krisis peran sosial laki-laki yang kehilangan keseimbangan antara fungsi ekonomi dan fungsi afektif.

Generasi yang Tumbuh Tanpa Arah

Dengan demikian absennya figur ayah bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga sosial. Dalam hal ini penelitian sosiologi keluarga menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam pola fatherless cenderung mengalami kesulitan dalam pengendalian diri, memiliki tingkat empati yang rendah, dan kesulitan mengenali otoritas dengan sehat.

BACA JUGA :  Jenal Mutaqin Ajak Warga Manfaatkan Program Sunat Gratis di Puskesmas se-Kota Bogor

Mereka mencari figur pengganti di luar rumah , entah pada guru, teman sebaya, atau bahkan tokoh dunia maya.

Sementara itu dalam dunia pendidikan, hal ini mulai terasa. Sekolah sering kali menjadi tempat anak mencari pengganti figur ayah.

Maka, ketika Abdul Muti menyoroti fenomena ini, ia sesungguhnya sedang menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa rekonstruksi fungsi keluarga, terutama kehadiran ayah sebagai figur moral dan emosional pertama dalam kehidupan anak.

Menemukan Kembali Kehadiran

Fenomena fatherless menuntut redefinisi makna kehadiran seorang ayah. Kehadirannya  bukan sekedar waktu di rumah, tetapi keterlibatan penuh dalam dinamika batin anak.

Sebuah kehadiran untuk menemani belajar, mendengarkan cerita sederhana, hingga hadir dalam kegagalan kecil merupakan bentuk cinta yang tak ternilai.

Pada dasarnya ayah masa kini harus belajar kembali menjadi manusia yang utuh yakni pekerja yang produktif sekaligus pendidik yang hangat.

Dalam konteks sosiologi keluarga, kehadiran ayah yang utuh berarti membangun modal sosial baru yaitu hubungan yang saling percaya, rasa aman, dan nilai-nilai moral yang ditanamkan melalui kedekatan.

Karena sesungguhnya, di balik setiap anak yang tangguh, hampir selalu ada sosok ayah yang benar-benar hadir, bukan hanya yang ada di rumah, tapi yang hidup di dalam jiwanya.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================