Paradoks Tes Kemampuan Akademik

Tes Kemampuan Akademik
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

DALAM minggu ini, semua siswa kelas 12 SMA/SMK menempuh Tes Kemampuan Akademik (TKA). Meski sejak awal, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sudah menegaskan bahwa TKA bukan ujian dalam arti penentu kelulusan, tetapi suasana di lapangan berkata lain.

Persiapan intensif, bimbingan belajar tambahan, doa bersama, hingga pengawasan silang antar sekolah membuat atmosfer TKA terasa seperti mengulang masa Ujian Nasional yang telah lama dihapus.

Di sisi lain bagi sebagian siswa, TKA menjadi momen yang menegangkan sekaligus membingungkan. Mereka menjalani serangkaian persiapan seolah menghadapi ujian besar, tetapi tetap diberi pengingat bahwa ini bukan “ujian”. Paradoks ini menimbulkan pertanyaan kritis jika bukan ujian, mengapa sistem dan suasananya menyerupai ujian?

Antara Tes dan Ritual Sosial Pendidikan

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, setiap bentuk evaluasi di sekolah tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan representasi dari nilai-nilai, harapan, dan tekanan sosial yang dibangun oleh sistem pendidikan.

TKA, dalam hal ini, tidak hanya berfungsi untuk mengukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga menjadi ajang simbolik bagi sekolah untuk menunjukkan kredibilitasnya di mata publik. Semakin tinggi hasil TKA, semakin kuat citra sekolah sebagai lembaga yang berhasil mencetak peserta didik unggul.

BACA JUGA :  Jangan Langsung Dibuang! Bekas Kotak Sepatu Ternyata Punya Banyak Manfaat di Rumah

Program bimbingan belajar, try out bersama, dan doa bersama menjelang TKA merupakan ekspresi sosial dari ritual pendidikan. Ritual ini memperlihatkan bagaimana ekosistem pendidikan antara lain guru, siswa, dan orang tua, mencoba mengelola kecemasan kolektif atas hasil evaluasi.

Di balik solidaritas itu, tersimpan pula tekanan sosial yang kuat bahwa  keberhasilan akademik seolah menjadi satu-satunya indikator masa depan.

Dengan demikian, TKA menjadi ruang reproduksi budaya evaluatif, dimana siswa bukan hanya dinilai atas dasar kemampuannya, tetapi juga dituntut memenuhi ekspektasi sosial yang lebih luas.

Tes ini, secara tidak langsung, memperlihatkan relasi kuasa dalam pendidikan yakni antara sekolah yang menilai dan siswa yang dinilai, antara sistem yang menuntut dan individu yang harus menyesuaikan diri.

Teknologi dan Wajah Baru Evaluasi

Disisi lain perbedaan utama antara TKA dan ujian di masa lalu terletak pada medium pelaksanaannya. Bila dulu siswa memegang pensil dan lembar jawaban, kini mereka menatap layar komputer dengan kamera pengawasan daring.

BACA JUGA :  Gempa M 7,2 Guncang Jepang Utara, Tidak Ada Korban Jiwa maupun Ancaman Tsunami

Disi lain digitalisasi ini menghadirkan efisiensi dan ketertiban administratif, tetapi tidak serta merta mengubah pengalaman emosional siswa yang tetap penuh tekanan. Karena pada dasarnya teknologi hanya mengganti alat, bukan mengganti rasa.

Dalam konteks ini, pengawasan melalui platform daring seperti zoom memperlihatkan bagaimana sistem pendidikan mengadopsi teknologi untuk memperkuat kontrol. Ruang digital yang semestinya fleksibel justru menjadi ruang disiplin baru yang memantau gerak-gerik siswa secara real-time. Fenomena ini menegaskan bahwa modernisasi pendidikan tidak selalu berarti pembebasan tetapi terkadang justru memperkuat bentuk-bentuk pengawasan lama dalam kemasan baru.

Sehingga dari sudut pandang sosiologis, hal ini mencerminkan pergeseran bentuk tanpa perubahan struktur. Sebuah  relasi kuasa tetap bertahan sementara lembaga penilai berada di puncak, sedangkan siswa ada di bawahnya.

Disisi lain teknologi menjadi alat legitimasi efisiensi, tetapi tidak mengubah paradigma evaluasi yang masih menempatkan siswa sebagai objek pengukuran, bukan subjek pembelajaran.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================