
Bayang Panjang Budaya Ujian
Meskipun Ujian Nasional telah lama dihapus, budaya ujian nasional belum sepenuhnya hilang dari sistem pendidikan.
Kita masih menyaksikan bagaimana sekolah dan masyarakat menilai keberhasilan belajar berdasarkan angka, bukan proses.
Hadirnya TKA seolah menjadi reinkarnasi dari budaya lama dalam wujud baru yang lebih modern, tetapi dengan semangat yang sama yakni mencari yang terbaik dari yang dianggap “terbaik”.
Dalam kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, situasi ini memperlihatkan bagaimana sistem pendidikan mereproduksi struktur sosial melalui mekanisme yang tampak netral seperti tes.
Siswa dengan akses lebih baik pada sumber daya belajar, fasilitas digital, dan dukungan keluarga cenderung lebih diuntungkan.
Dengan demikian, TKA bukan hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga memperlihatkan ketimpangan sosial yang terselubung di balik layar komputer.
Kenyataan ini memperlihatkan bahwa evaluasi kita masih berorientasi pada hasil, bukan pemahaman. Dalam bayang panjang mentalitas ujian, belajar masih dipandang sebagai proses menuju tes, bukan sarana mengasah kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kolaboratif.
Sehingga perubahan istilah dari “ujian” menjadi “tes” belum cukup untuk mengubah budaya pendidikan yang berorientasi pada kompetisi dan hierarki.
Dari Tes ke Refleksi Pendidikan
Sudah saatnya kita meninjau ulang makna tes dalam dunia pendidikan. Bila pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia, maka evaluasi seharusnya menjadi alat refleksi yang membantu siswa memahami dirinya sendiri, bukan sekedar mekanisme seleksi yang menilai dari angka.
Pada bagian ini TKA bisa menjadi ruang pembelajaran, asalkan orientasinya bergeser dari penilaian ke pemahaman.
Pemerintah perlu menumbuhkan budaya evaluasi yang lebih partisipatif dan dialogis, dimana siswa terlibat aktif dalam menilai proses belajarnya.
Disisi lain guru tidak lagi berperan sebagai hakim nilai, tetapi sebagai pendamping yang memandu refleksi. Dengan cara itu, tes tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari perjalanan belajar yang bermakna.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa nilai TKA yang kita peroleh, melainkan apa makna belajar yang kita temukan setelah tes itu berakhir.
Karena pendidikan sejati tidak diukur dari skor kemampuan akademik, tetapi dari sejauh mana seseorang memahami kehidupan dan mampu menebarkan manfaat darinya.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















