Indonesia Jadi Pemimpin Baru Adopsi AI di Asia Tenggara, Catat Lonjakan 127% Pendapatan Aplikasi Berbasis AI

AI
Indonesia Jadi Pemimpin Baru Adopsi AI di Asia Tenggara, Catat Lonjakan 127% Pendapatan Aplikasi Berbasis AI. (Foto: detikcom)

BOGORTODAY.COM Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sepanjang 2024 hingga 2025.

Berdasarkan laporan terbaru e-Conomy SEA 2025 hasil kolaborasi Google, Temasek, dan Bain & Company, Indonesia kini menempati posisi strategis sebagai salah satu pemimpin adopsi AI di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia Masuk 20 Besar Dunia Pengguna AI

Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, mengungkapkan bahwa Indonesia kini termasuk dalam 20 besar negara di dunia yang paling aktif memanfaatkan teknologi AI.

Salah satu indikatornya adalah penggunaan Nano Banana, platform AI generatif, yang menghasilkan 18 juta image generation per hari.

“Minat dan adopsi AI yang sangat kuat dari konsumen juga mendorong momentum komersial. Indonesia menunjukkan pertumbuhan pendapatan aplikasi berbasis AI hingga 127% antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025 — tertinggi di Asia Tenggara,” ujar Veronica dalam konferensi pers di Kantor Google Indonesia, Jakarta, Kamis (13/11/2025).

BACA JUGA :  Pemancing Asal Depok Meninggal di Situ Cikaret, Diduga Serangan Jantung

Pengguna Aktif dan Peningkatan Keterampilan

Tidak hanya digunakan untuk hiburan atau kreasi digital, AI juga mulai diadopsi secara luas di dunia kerja. Menurut laporan tersebut, 79% pengguna aktif di Indonesia kini mempelajari dan meningkatkan keterampilan terkait AI.

Motivasi utama mereka, kata Veronica, adalah untuk:

  • Meningkatkan efisiensi dan menghemat waktu riset (51%)
  • Mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35%)
  • Memperkuat keamanan dan privasi (32%)

Tantangan: Minimnya Startup dan Pendanaan

Meski memiliki basis pengguna yang besar dan pertumbuhan pesat, tantangan tetap ada. Saat ini jumlah startup AI di Indonesia baru sekitar 45+, dengan kontribusi hanya 4% dari total pendanaan startup AI di kawasan ASEAN-10.

Sebagai perbandingan, Singapura memiliki lebih dari 495 startup AI, sementara Malaysia sekitar 60+ startup. Angka tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang besar bagi ekosistem AI di Tanah Air untuk tumbuh.

Butuh Kolaborasi Strategis

Veronica menegaskan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi sementara, melainkan transformasi besar yang memengaruhi cara bisnis dan ekonomi beroperasi.

BACA JUGA :  Peabo Bryson, Suara Legendaris di Balik Lagu Disney, Tutup Usia pada 75 Tahun

“Urgensinya bagi Indonesia jelas — kita perlu secara strategis mengubah antusiasme pengguna menjadi inovasi dalam negeri. Hal ini membutuhkan kolaborasi antara investor, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis,” katanya.

Upaya tersebut mencakup pembangunan infrastruktur digital yang kuat, pengembangan talenta AI lokal, integrasi teknologi cerdas di berbagai sektor, serta penerapan tata kelola AI yang transparan untuk memperkuat kepercayaan publik.

Menuju Kepemimpinan AI di Asia Tenggara

Laporan e-Conomy SEA 2025 menegaskan bahwa dengan kombinasi antara basis pengguna besar, pertumbuhan komersial tercepat, dan potensi sumber daya manusia, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan AI terdepan di Asia Tenggara.

Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat untuk mengamankan kepemimpinannya di masa depan Asia Tenggara yang digerakkan oleh AI,” tutup Veronica.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================