
Ketidakseimbangan inilah yang melahirkan ketegangan peran yang berat, sehingga slogan “guru hebat” terasa seperti pujian kosong jika tidak diikuti kebijakan yang memadai.
Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Guru
Salah satu tantangan terbesar guru hari ini adalah melemahnya kepercayaan publik. Ketika anak mendapat teguran, orang tua dengan mudah merespons lewat komplain, unggahan media sosial, atau bahkan langkah hukum. Padahal sebagian besar konflik sekolah merupakan persoalan komunikasi dan pemahaman pedagogis, bukan tindakan disipliner yang perlu dibesarkan.
Dalam banyak kasus, guru menjalankan fungsi pedagogis, tetapi ditafsirkan secara emosional oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan pergeseran relasi sosial antara guru, murid, dan orang tua, sebuah relasi yang dulunya hierarkis dan penuh respek, kini berubah menjadi relasi negosiasi yang sering kali tidak seimbang. Guru menjadi pihak yang paling rentan untuk disalahkan.
Saatnya Mengembalikan Martabat Guru
Bila tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” ingin benar-benar hidup, maka arah kebijakan pendidikan harus memberi ruang aman dan wibawa profesional kepada guru. Perlindungan hukum, kepercayaan publik, kebijakan yang stabil, serta pengurangan beban administratif yang tidak relevan merupakan langkah awal untuk meredakan role strain yang mereka hadapi.
Guru tidak meminta diperlakukan sebagai pahlawan, mereka hanya ingin profesinya dihormati. Mereka ingin dipercaya ketika mendidik, didukung ketika menghadapi murid dengan persoalan kompleks, dan dilindungi ketika menjalankan tugas sesuai etika profesi. Sebab Martabat guru merupakan pintu awal untuk memperkuat kualitas pendidikan.
Pada akhirnya selama role strain dibiarkan menjadi bagian dari rutinitas yang dianggap wajar, maka kita sebenarnya tengah membiarkan “guru hebat” berjalan tanpa pondasi yang kuat.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















