
Sentimen pasar juga diperkuat oleh perkembangan terbaru soal kursi Gubernur The Fed.
Presiden Donald Trump disebut akan mencalonkan Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, untuk menggantikan Jerome Powell pada Mei 2026.
Hassett dikenal sebagai tangan kanan Trump dan pendukung penurunan suku bunga.
Dengan mayoritas Kongres berasal dari Partai Republik, peluang Hassett diterima dinilai sangat besar.
“Trump ingin suku bunga kembali ke level 0–0,25%. Hal ini bisa membuat dolar melemah, dan harga emas menguat,” jelas Ibrahim.
Sentimen Domestik: Produksi Freeport Terhambat
Dari dalam negeri, harga emas juga dipengaruhi oleh masalah pasokan. Ibrahim menyoroti kondisi produksi emas PT Freeport Indonesia yang terganggu karena serangkaian masalah teknis di tambang dan smelter.
Freeport sebelumnya menargetkan produksi emas 50 ton, namun kini hanya mampu menghasilkan 25 ton. Artinya, pasokan emas dalam negeri berkurang hingga 50%.
“Permintaan logam mulia tinggi, sementara Freeport baru bisa kembali memproduksi penuh sekitar April atau Mei 2026. Ketidakseimbangan supply-demand ini membuat harga emas cenderung naik,” ujar Ibrahim.
Harga Emas Berpotensi Terus Meroket
Dengan kombinasi faktor global dan domestik—mulai dari kebijakan The Fed, dinamika politik AS, hingga penurunan pasokan emas dalam negeri—harga emas diperkirakan akan terus menguat pada awal Desember 2025.
“Walaupun turun akan terbatas, tapi naik akan tinggi karena supply-demand tidak seimbang,” tutup Ibrahim.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














