MERAWAT DAN MENJAGA PERSATUAN NKRI

Oleh : Heru B setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)

PENULIS prihatin dengan kondisi NKRI yang tidak lepas dari pro dan kontra suatu permasalahan, sejak tahun 2014 sampai sekarang. Dengan kata lain masyarakat Indonesia terpecah belah menjadi 2 kelompok.

Saat Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014, ada 2 calon yaitu pasangan Prabowo Subianto dengan Hatta Rajasa dan pasangan Jokowi dengan JK. Karena hanya 2 kandidat dan kampanye sangat gas pol, maka suasananya tegang dan tidak nyaman. Sehingga timbul saling meledek, pendukung Prabowo dinamakan Kampret dan pendukung Jokowi disebut Cebong.

Kemudian ke Pilkada DKI Jakarta dengan pasangan Anies Baswedan dengan Sandiaga Uno dan pasangan Ahok dengan Djarot. Sebetulnya ada satu pasangan lagi yaitu AHY dan Sylviana, tapi kalah pada putaran pertama (Pilkada DKI Jakarta harus menang 50 %, jika tidak ada yang menang 50 %, maka ada putaran ke 2).

BACA JUGA :  10 Strategi Memasak Hemat agar Pengeluaran Makan Tetap Terkendali di Tengah Kenaikan Harga

Meski hanya Pilkada, tapi terjadi di Jakarta, Pilkada DKI Jakarta serasa Pilpres, dan masyarakat sangat terbelah menjadi 2, yaitu pendukung Anies disebut Kadal Gurun (Kadrun) dan pendukung Ahok disebut Cebong.

Pada Pilpres 2019 ada 2 pasangan yaitu Prabowo dengan Sandiaga Uno dan Jokowi dengan KH. Maruf Amin. Tetap terjadi 2 kelompok yang pendukung Prabowo disebut Kadrun dan pendukung Jokowi di sebut Cebong.

Setelah Jokowi tidak jadi presiden, tidak selesai NKRI terpecah belah menjadi 2, yaitu pendukung yang pro Jokowi ijazahnya asli disebut Ternak Mulyono (Termul). Sedang yang kontra Jokowi, karena menilai ijazahnya Jokowi palsu tidak dapat sebutan.

Penulis tidak heran, beda pendapat itu biasa, asal dalam batas-batas kewajaran.  Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku memohon 3 perkara kepada Allah, maka Allah memberiku 2 perkara dan menolak 1 perkara. Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim).

BACA JUGA :  Batu Ginjal Tak Selalu Karena Kurang Minum, Ini Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Hikmah adanya permusuhan atau beda pendapat ini, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk mendamaikan saudara kita yang beda pendapat. Allah memberi kesempatan kepada kita untuk saling mengingatkan dan memberi nasihat kepada saudara kita tersebut. Karena ini dari agama adalah nasihat.

Saatnya kita duduk bareng sambil minum kopi sruput, karena ciri bangsa Indonesia itu musyawarah, kekeluargaan, gotong royong dan  santun, bukan berdebat sampai matanya melotot. Jayalah Indonesiaku.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================