
Pertolongan Darurat di Dalam Mobil
Dalam kondisi panik, Deswita terus mengguncang tubuh suaminya dan memanggil namanya.
Ia bahkan sempat memukul dada Ferry untuk memicu respons.
“Aku panggil ‘Ayah’, tapi merasa itu bukan nama dia. Lalu aku panggil ‘Ferry Maryadi’, aku pukul jantungnya sekencang itu sampai dia kehentak dan kembali ada napasnya,” ungkap Deswita.
Tujuh menit itu terasa seperti waktu paling panjang dalam hidupnya.
Ferry menggambarkan bahwa selama tidak sadarkan diri, ia merasa seperti berada di sebuah jalan dengan lampu sangat terang menyinari matanya.
“Jangankan ngomong, jari kaki dan tangan aja kaku. Kayak nggak bisa apa-apa,” cerita Ferry.
Tiba di IGD: Dugaan Kontradiksi Obat
Setibanya di IGD, kondisi Ferry menunjukkan tekanan darah yang sangat rendah.
Deswita langsung memberi tahu dokter bahwa kemungkinan besar terjadi kontradiksi akibat kombinasi obat dosis tinggi.
“Dokternya sampai bilang, ‘Oh ya ampun, ini dibarengi,’” tutur Deswita.
Ferry menyadari bahwa keselamatannya bergantung pada kesigapan Deswita dan asisten yang segera melarikannya ke rumah sakit.
“Kalau sedikit telat, mungkin saya nggak selamat,” kata Ferry.
Peristiwa yang menegangkan ini sekaligus menjadi peringatan penting mengenai penggunaan obat dosis tinggi serta perlunya komunikasi yang jelas kepada dokter.
Bagi Ferry dan Deswita, kejadian tersebut menjadi pengalaman tak terlupakan yang memperkuat ikatan mereka sebagai pasangan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















