
Kondisi ini sangat berbeda dengan hutan alami yang memiliki sistem perakaran dalam, berlapis, dan saling mengikat antarspesies tumbuhan. Keanekaragaman akar tersebut berfungsi memperkuat struktur tanah sekaligus meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan. Sebaliknya, pola akar sawit yang seragam dan dangkal membuat tanah lebih mudah tergerus ketika terjadi aliran air permukaan (run off) akibat hujan deras.
Selain itu, rendahnya keanekaragaman tumbuhan di kebun sawit juga berdampak pada menurunnya siklus nutrisi alami yang berperan penting dalam menjaga kualitas dan kestabilan tanah.
Penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara intensif di perkebunan sawit turut mengganggu biota tanah, padahal organisme tersebut berperan penting dalam mempertahankan struktur tanah yang sehat dan mampu menyerap air.
Dengan kata lain, meskipun kelapa sawit merupakan tanaman hijau dan berakar, struktur ekologisnya tidak cukup kompleks untuk berfungsi sebagai penyangga hidrologi dan penguat tanah seperti halnya hutan alami.
Fenomena banjir dan longsor yang semakin sering terjadi di Indonesia dalam dua dekade terakhir tidak bisa dilepaskan dari perubahan tutupan lahan.
Curah hujan tinggi yang sebelumnya dapat dikelola secara alami oleh ekosistem hutan kini berubah menjadi aliran permukaan yang merusak, terutama di wilayah yang hutan alaminya telah dikonversi menjadi lahan produksi monokultur.
Menurut Taufikurahman, dalam banyak kasus, alih fungsi hutan alami menjadi kebun sawit menjadi salah satu pemicu utama bencana hidrometeorologi.
Hilangnya vegetasi alami menyebabkan sistem hidrologi yang sebelumnya bekerja secara seimbang dan mandiri menjadi terganggu, sehingga risiko banjir dan longsor pun meningkat secara signifikan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














