Sosok Mario Pineida dan Duka Besar yang Menyertai Kepergiannya

Hari yang berat untuk sepak bola Ekuador. Mario Pineida pergi terlalu cepat, meninggalkan duka dan pertanyaan yang belum terjawab. (Foto: detiksport)

BOGORTODAY.COM – Dunia sepak bola Ekuador memasuki hari yang berat. Mario Pineida bek Barcelona SC dan mantan pemain tim nasional meninggal dalam sebuah insiden penembakan pada Rabu waktu setempat.
Bukan hanya kabar kehilangan, tetapi juga cerminan situasi keamanan yang semakin membuat publik resah.

Pineida tutup usia di tengah meningkatnya gelombang kekerasan bersenjata di negara tersebut. Polisi mengonfirmasi dua korban tewas dalam insiden yang sama, sementara satu orang lainnya masih menjalani perawatan akibat luka tembak.

Kabar yang Mengguncang Publik

Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri membenarkan kematian sang pemain, namun detail kejadian belum dibuka secara menyeluruh.
Barcelona SC langsung merilis pernyataan duka klub menyebut seluruh pemain, staf, dan para pendukung merasa kehilangan sosok berusia 33 tahun itu.

BACA JUGA :  Mitra MBG Tuntut Kepala BGN Baru Perkuat Regulasi dan Tata Kelola

Laporan media lokal menyebut insiden terjadi di kawasan Samanes, Guayaquil wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menjadi sorotan karena tingkat kriminalitasnya.

Jejak Karier yang Layak Dikenang

Pineida bukan nama asing bagi publik sepak bola Ekuador. Ia delapan kali mengenakan seragam La Tri, tampil di Copa América 2017 dan 2021, serta mencatat penampilan terakhirnya untuk timnas dalam laga grup melawan Brasil pada 2021.

Perjalanannya dimulai di Independiente del Valle sebelum pindah ke Barcelona SC pada 2016. Bersama klub Guayaquil, ia memenangkan dua gelar liga domestik dan menjadi salah satu pemain dengan loyalitas jangka panjang.
Pada 2022, Pineida sempat menjajal sepak bola Brasil bersama Fluminense sebelum kembali ke negaranya.

BACA JUGA :  Nadiem Makarim Sampaikan Pledoi di Sidang Kasus Chromebook, Tegaskan Tidak Terlibat Kebijakan Pengadaan

Duka yang Lebih Luas dari Sepak Bola

Kepergian Pineida datang di tengah tahun yang suram bagi keamanan publik. Catatan Observatorium Kejahatan Terorganisasi memperkirakan lebih dari 9.000 kasus pembunuhan terjadi sepanjang tahun angka tertinggi dalam sejarah negara itu.

Presiden Daniel Noboa berulang kali menegaskan komitmen memberantas jaringan kriminal, namun kekerasan masih terus memakan korban, termasuk dari dunia olahraga.

Tragedi ini juga bukan kasus pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pemain muda turut kehilangan nyawa akibat insiden penembakan terpisah di Guayaquil dan kota lainnya.

Untuk Barcelona SC dan publik sepak bola Ekuador, kepergian Pineida bukan sekadar statistik. Ini tentang seorang pemain, seorang profesional, dan sosok keluarga yang tidak sempat mengucap salam perpisahan.

(MG6)

Bagi Halaman

Editor : Alif Luqman

Sumber : bola.net

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================