Kemdiktisaintek Kerahkan 2.500 Dokter dan Nakes untuk Tangani Bencana di Sumatera

Kemdiktisaintek
Kemdiktisaintek Kerahkan 2.500 Dokter dan Nakes untuk Tangani Bencana di Sumatera. (Foto: Ist)

BOGORTODAY.COM – Bantuan bagi korban bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), serta Sumatera Barat (Sumbar) terus berlanjut. Salah satu dukungan datang dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang mengerahkan ribuan tenaga medis dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi kepada seluruh perguruan tinggi yang telah berkontribusi dalam penanganan bencana di wilayah Sumatera. Ia mengungkapkan, Kemdiktisaintek telah menyiapkan lebih dari 1.500 dokter dan sekitar 1.000 tenaga kesehatan dari berbagai kampus di Indonesia.

BACA JUGA :  Kamar Mandi Sudah Dibersihkan Tapi Masih Bau? Ini 5 Penyebab yang Sering Tidak Disadari

Sebanyak 2.500 dokter dan tenaga kesehatan tersebut akan ditempatkan di posko-posko pengungsian yang telah dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan.

“Kita ada lebih dari 1.500 dokter dan 1.000 tenaga kesehatan yang sudah diatur dan direncanakan untuk mengisi posko-posko pengungsian yang telah dikoordinasikan dengan BNPB maupun Kementerian Kesehatan,” ujar Brian.

Pernyataan tersebut disampaikannya usai menghadiri acara Repertoar Sains dan Teknologi di Gedung D Kemdiktisaintek, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (20/12/2025).

Terapkan Sistem Jaga Bergilir Dua Minggu

Brian menjelaskan, para dokter dan tenaga kesehatan tersebut merupakan relawan dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Pengiriman bantuan dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus dalam satu gelombang.

BACA JUGA :  Waspadai Tanda-Tanda Korsleting Listrik di Rumah, Kenali Gejalanya Sebelum Terjadi Kebakaran

Kemdiktisaintek bersama pihak terkait menerapkan sistem jaga bergilir setiap dua minggu sekali. Skema ini dirancang untuk menjaga kondisi fisik dan mental para relawan agar tetap optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan.

“Para dokter, tenaga kesehatan, dan relawan dari kampus-kampus akan berangkat secara bergiliran setiap dua minggu. Kalau terlalu lama di lapangan tentu bisa kelelahan atau jatuh sakit, sehingga pelayanan bisa terganggu,” jelasnya.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================