
Tradisi pohon Natal seperti yang dikenal saat ini mulai berkembang di Jerman pada abad ke-16. Catatan sejarah menyebutkan bahwa umat Kristen di sana mulai membawa pohon cemara ke dalam rumah dan menghiasnya.
Sebagian bahkan membuat “piramida Natal” dari kayu yang dihiasi dedaunan hijau dan lilin sebagai simbol cahaya dan kehidupan.
Awalnya, tradisi ini tidak langsung diterima luas. Di Amerika Serikat, pohon Natal sempat dianggap aneh dan asing. Catatan awal tentang pohon Natal di Amerika berasal dari komunitas imigran Jerman di Pennsylvania pada awal abad ke-19. Meski demikian, kebiasaan ini perlahan mulai dikenal.
Perubahan besar terjadi pada pertengahan abad ke-19, ketika Ratu Victoria dan Pangeran Albert—yang berdarah Jerman—ditampilkan dalam sebuah ilustrasi tengah merayakan Natal bersama keluarga di sekitar pohon Natal.
Gambar tersebut tersebar luas dan memengaruhi masyarakat Inggris serta Amerika Serikat. Sejak saat itu, pohon Natal menjadi simbol keluarga, kehangatan, dan perayaan.
Memasuki abad ke-20, pohon Natal semakin populer. Masyarakat mulai menghiasnya dengan ornamen buatan tangan, lilin, hingga lampu listrik setelah teknologi berkembang. Pohon Natal pun tak hanya hadir di rumah, tetapi juga menghiasi alun-alun kota dan ruang publik.
Kini, pohon Natal bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol kebersamaan, harapan, dan sukacita yang menyatukan banyak orang di seluruh dunia setiap akhir tahun.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















