Kisah Sa’id bin Amir: Gubernur Zuhud yang Memilih Kemiskinan Demi Akhirat

Umar semakin terkejut dan bertanya kembali, “Apakah gubernur kalian benar-benar miskin?” Mereka menjawab dengan yakin, “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, sering kali tidak terlihat api menyala di rumahnya karena tidak ada makanan yang dimasak.”

Mendengar hal itu, Umar bin Khattab menangis. Ia lalu mengambil seribu dinar dari baitul mal dan berkata, “Sampaikan salamku kepada Sa’id bin Amir dan berikan uang ini untuk membantunya memenuhi kebutuhan hidup.”

Ketika utusan itu tiba di rumah Sa’id dan menyerahkan uang tersebut, Sa’id langsung berkata lirih, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mendengar itu, istrinya terkejut dan mengira telah terjadi musibah besar. Namun Sa’id menjelaskan, “Bukan musibah dunia, melainkan ujian bagi akhirat kita. Dunia telah datang untuk merusak kehidupan akhiratku.”

BACA JUGA :  Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Gunung Putri Bogor

Istrinya pun berkata, “Jika demikian, bebaskanlah dirimu darinya.” Sa’id pun dengan mantap menyerahkan seluruh uang tersebut kepada fakir miskin tanpa menyisakan sedikit pun.

Perdagangan Akhirat yang Menguntungkan

Dalam riwayat lain yang dikisahkan dalam Biografi 60 Sahabat Nabi karya Muhammad Khalid, disebutkan bahwa ketika Sa’id bin Amir dan istrinya berangkat ke Homs, mereka dibekali sejumlah harta oleh Khalifah Umar. Istrinya sempat berniat menggunakan harta itu untuk kebutuhan hidup dan membeli pakaian yang layak.

Namun Sa’id mengusulkan sesuatu yang berbeda. Ia mengatakan bahwa negeri Syam adalah tempat yang subur untuk “berniaga”, bukan dengan perdagangan dunia, tetapi dengan perdagangan akhirat. Ia meyakinkan istrinya bahwa keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar dan kekal.

BACA JUGA :  5 Kebiasaan Sepele yang Bisa Memicu Asam Lambung Naik

Akhirnya, sebagian kecil harta digunakan untuk kebutuhan dasar, sementara sisanya disedekahkan seluruhnya kepada kaum fakir miskin. Ketika sang istri menyadari bahwa seluruh harta mereka telah habis, ia menangis. Namun Sa’id menenangkannya dengan berkata bahwa ia tidak ingin tertinggal dari para sahabat Nabi yang telah lebih dahulu mengorbankan segalanya demi Allah.

Ia memilih kehidupan sederhana, menjauh dari kemewahan dunia, dan menukar kenikmatan fana dengan harapan kebahagiaan abadi di akhirat. Begitulah kisah Sa’id bin Amir, seorang pemimpin yang tidak silau oleh kekuasaan dan menjadikan keikhlasan sebagai jalan hidupnya.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================