Menunggu Ruang Baru di Balik Penertiban Lapak Kawasan Kampus IPB University

Kampus IPB University
Petugas Satpol PP Kabupaten Bogor menertibkan 42 lapak liar di kawasan Kampus IPB University, Senin (29/12/2025). Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan.

BOGORTODAY.COM – Pagi itu, Senin (29/12/2025) suara palu dan derit papan yang terlepas satu per satu memecah suasana di Babakan Dramaga. Di sisi jalan tak jauh dari Kampus IPB University, 42 lapak yang selama bertahun-tahun menjadi tempat bergantung hidup puluhan pedagang mulai rata dengan tanah.

Sebagian pemiliknya hanya bisa memandangi lapak yang dulu ramai pembeli, kini berangsur kosong. Ada yang sejak hari sebelumnya memilih membongkar sendiri, ada pula yang bertahan hingga petugas datang.

Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor, Cecep Imam Nagarasid menuturkan, penertiban itu bukan tanpa peringatan. Surat edaran telah disampaikan tujuh hari sebelumnya, memberi waktu bagi para pedagang untuk membongkar lapaknya secara mandiri.

BACA JUGA :  MMAJ Jakarta 2026 Hadirkan Festival Anime dan Budaya Jepang Berskala Internasional di Gandaria City

“Kalau surat 7×24 jam itu disuruh pembongkaran mandiri. Makanya kemarin ada yang membongkar sendiri, ada juga yang tidak,” kata Cecep usai pembongkaran.

Sebanyak 45 personel gabungan diturunkan. Mereka berasal dari markas Satpol PP, didukung unsur kecamatan, desa, hingga Garnisun. Penertiban dilakukan secara bertahap sejak pagi, dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.

Di balik angka-angka itu, tersimpan cerita panjang kawasan tersebut. Kepala Bidang Ketertiban Umum Satpol PP Kabupaten Bogor, Rhama Khodara menjelaskan, sebelumnya terdapat 149 bangunan pedagang kaki lima yang diminta membongkar lapak secara mandiri.

“Total ada 149 PKL keseluruhan. Yang lain sudah bongkar mandiri. Yang 42 lapak ini masih nekat berjualan, makanya kita bongkar,” ujarnya.

BACA JUGA :  Arab Saudi Buka Musim Umrah 1448 H, Visa Mulai Diterbitkan Sejak 31 Mei 2026

Bagi sebagian pedagang, lapak yang tak mewah itu bukan sekadar tempat berjualan, melainkan tumpuan ekonomi keluarga. Karena itu, upaya relokasi masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah berusaha mencarikan ruang baru agar para pedagang tetap bisa mencari nafkah.

“Untuk relokasi masih berupaya ke pihak kampus, tapi belum memberikan ruang di mana titik-titiknya,” kata Rhama.

Menjelang siang, puing-puing bangunan tersisa di pinggir jalan. Bagi para pedagang, hari itu menjadi penanda berakhirnya satu bab kehidupan, sekaligus awal ketidakpastian tentang ke mana langkah selanjutnya akan diarahkan.

Bagi Halaman

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================