
Kowalski menekankan pentingnya memecah tujuan besar menjadi langkah kecil. Misalnya, alih-alih menargetkan olahraga satu jam setiap hari, cukup mulai dengan berjalan kaki 10 menit. Pendekatan bertahap jauh lebih realistis dan berkelanjutan.
- Tidak memahami alasan di balik tujuan
Banyak resolusi dibuat karena tekanan sosial atau rasa bersalah, bukan karena keinginan pribadi. Menurut Bly, perubahan hanya akan bertahan jika motivasinya berasal dari dalam diri.
“Jika seseorang membenci prosesnya, seperti berolahraga hanya karena merasa ‘harus’, maka resolusi itu akan terasa seperti hukuman,” jelasnya.
Memahami alasan personal—apakah demi kesehatan, kebahagiaan, atau kualitas hidup—membuat seseorang lebih mampu bertahan menghadapi tantangan. Ketika tujuan selaras dengan nilai pribadi, prosesnya terasa lebih bermakna.
- Belum benar-benar siap berubah
Tak semua orang yang membuat resolusi berada pada tahap kesiapan yang sama. Bly merujuk pada konsep Stages of Change, di mana seseorang perlu melalui beberapa fase sebelum benar-benar siap bertindak.
Resolusi yang dibuat secara impulsif, tanpa persiapan mental dan rencana konkret, cenderung berumur pendek. Sebaliknya, perubahan yang bertahan lama lahir dari kesadaran, kesiapan, dan komitmen jangka panjang.
Pada akhirnya, resolusi Tahun Baru bukan sekadar soal menetapkan target, melainkan memahami diri sendiri. Alih-alih mengejar perubahan besar dalam waktu singkat, para ahli menyarankan untuk fokus pada langkah kecil, realistis, dan konsisten.
Dengan begitu, resolusi tak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi benar-benar membawa perubahan nyata dalam hidup.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














