Misteri Virus Pembunuh Bakteri Dibawa Pulang ke Bumi Terungkap!

virus
Ilustrasi satelit yang memutari bumi. Foto : Istock

BOGORTODAY.COM – Sebuah eksperimen unik di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menghasilkan temuan yang bisa membuka jalan baru dalam dunia medis. Virus pembunuh bakteri atau phage yang lahir di luar angkasa akhirnya dibawa pulang ke Bumi. Para peneliti berharap, virus tersebut dapat menjadi solusi bagi penyakit yang resisten terhadap antibiotik.

Menurut laporan Science Alert, perbedaan utama eksperimen di luar angkasa dan di Bumi terletak pada gravitasi. Lingkungan tanpa gravitasi memicu mutasi genetika serta perubahan struktur fisik bakteri. Mutasi ini penting karena bakteri dan phage terus beradaptasi dalam evolusi: bakteri berusaha bertahan dari serangan, sementara phage mencari cara untuk menembus pertahanan tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Biology oleh Srivatsan Raman dan tim dari University of Wisconsin-Madison menjelaskan proses eksperimen tersebut. Mereka membandingkan populasi E. coli yang terinfeksi virus T7, dengan inkubasi dilakukan di ISS dan di permukaan Bumi.

BACA JUGA :  Netanyahu Tegaskan Israel Akan Hentikan Ancaman Iran, Sebut Rezim Teheran Tak Akan Bertahan

Hasilnya, infeksi phage di luar angkasa berlangsung lebih lambat dibanding di Bumi. Kondisi tanpa gravitasi membuat cairan tidak bercampur secara alami, sehingga bakteri dan phage jarang bertemu.

“Studi baru memvalidasi hipotesis dan ekspektasi kami,” kata Raman.

Di Bumi, cairan bakteri dan virus terus “diaduk” oleh gravitasi: cairan hangat naik ke permukaan, cairan dingin turun ke bawah, dan partikel berat berada di dasar. Sebaliknya, di luar angkasa semua zat hanya “mengambang,” memaksa phage berevolusi agar lebih efisien dalam menangkap bakteri.

Setelah sampel dikirim kembali ke Bumi, peneliti menemukan perubahan signifikan. Virus yang sempat tinggal di luar angkasa mampu menginfeksi bakteri lebih cepat dan mengikatnya lebih kuat. Di sisi lain, E. coli juga berevolusi dengan mengubah reseptor untuk menghalau serangan virus.

BACA JUGA :  Kemensos Akui Sekolah Rakyat Masih Kekurangan Guru dan Asrama

Tim kemudian menguji phage luar angkasa terhadap E. coli yang diketahui kebal antibiotik. Hasilnya mengejutkan: aktivitas virus tersebut jauh lebih tinggi dibanding phage yang diinkubasi di Bumi.

“Hasil ini menunjukkan bahwa luar angkasa bisa membantu kita meningkatkan aktivitas terapi menggunakan phage,” kata Charlie Mo dari University of Wisconsin-Madison. “Namun, ada faktor biaya mengirim phage ke luar angkasa.”

Temuan ini memberi harapan besar dalam menghadapi krisis resistensi antibiotik yang menjadi ancaman global. Namun, tantangan biaya dan logistik untuk mengirim eksperimen ke luar angkasa masih menjadi hambatan utama.

Dengan hasil penelitian ini, para ilmuwan semakin yakin bahwa ruang angkasa bukan hanya arena eksplorasi kosmos, tetapi juga laboratorium masa depan untuk menemukan solusi medis yang tak bisa dicapai di Bumi.***

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : cnbcindonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================