
Menurut Rifai, kenaikan harga tersebut diduga terkait dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Pada pekan ini, rupiah sempat melemah hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS, meski kemudian menguat tipis ke kisaran Rp16.847 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi.
“Kenaikan harga sapi itu ya mungkin memengaruhi dari harga dolar juga. Sebenarnya sapi dari Australia yang dibesarkan di Indonesia dibikin spek sapi potong, mungkin dari Australia-nya udah ada kenaikan harga,” papar Rifai.
Pola ketergantungan terhadap sapi impor ini membuat pedagang lokal rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya impor sapi bakalan otomatis meningkat, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga di seluruh rantai pasokan.
Dampak paling nyata dari lonjakan harga adalah anjloknya daya beli masyarakat. Rifai mengungkapkan, dalam kondisi saat ini, pendapatan mereka dalam menjual daging sapi turun drastis hingga lebih dari 50 persen.
“Sekarang daya jual rendah sedangkan harga daging mahal, daya beli menurun jauh. Jauh deh anjlok banget bisa di atas 50 persen,” ungkapnya.
Penurunan pendapatan yang tajam ini menciptakan situasi paradoks bagi para pedagang. Di satu sisi, mereka harus membeli daging dari pemasok dengan harga tinggi. Di sisi lain, konsumen tidak memiliki kemampuan atau kemauan untuk membeli dengan harga yang berlaku saat ini.
Situasi ini menempatkan pedagang dalam dilema. Jika mereka menaikkan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya pembelian, mereka berisiko kehilangan pelanggan setia yang sudah bertahun-tahun berbelanja di lapak mereka. Namun jika mempertahankan harga lama, mereka tidak akan mendapat keuntungan sama sekali, bahkan bisa merugi.
“Kita naikin juga nggak enak lah cuma kalau nggak dinaikin nggak ada untung juga buat apa, dilema,” tutup Rifai.
Editor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















