Dolar Menguat, Harga Daging Sapi di Pasar Cibinong Tembus Rp135.000 per Kilogram

daging sapi
Seorang pedagang melayani pembeli daging sapi di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (23/1/2026). Setelah sempat mogok dagang selama tiga hari, para pedagang kembali berjualan di tengah lonjakan harga daging sapi yang menembus Rp135.000 per kilogram, seiring naiknya harga sapi hidup dan melemahnya nilai tukar rupiah. Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan.

BOGORTODAY.COM – Setelah sempat menghentikan aktivitas penjualan selama tiga hari, para pedagang daging sapi di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, kembali membuka lapaknya, Jumat (23/1/2026).

Rifai (31), salah satu pedagang daging sapi di pasar Cibinong, mengatakan keputusan untuk kembali berjualan mengikuti instruksi dari Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI). Mogok dagang yang berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu pekan lalu, merupakan bentuk protes atas lonjakan harga sapi hidup yang tak terkendali.

“Iya kemarin ada mogok dagang, setelah APDI mengumumkan untuk melakukan aktivasi kembali,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (23/1/2026).

Yang mengkhawatirkan, harga daging potong sapi kini melonjak drastis hingga mencapai Rp135.000 per kilogram. Angka ini jauh melampaui kisaran normal yang biasanya berkisar antara Rp110.000 hingga Rp125.000 per kilogram.

Rifai menjelaskan, kenaikan harga bermula dari rantai pasokan hulu. Harga sapi di feedlot (tempat penggemukan sapi sebelum dipotong) mengalami kenaikan signifikan. Dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat karkas di Rumah Potong Hewan (RPH).

“Cuma memang harga daging sedang ada kenaikan, dikarenakan sapi di feedlot ada kenaikan jadi memengaruhi harga di karkas di jagal juga di Rumah Potong Hewan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Perdana, Peringatan HJB ke-544 Digelar di Citalahab Malasari

Ketika daging sapi akhirnya memasuki jalur perdagangan di pasar tradisional, harga yang harus dibayar pedagang sudah membengkak. Rifai menyebut, harga timbang sapi hidup saat ini sudah sangat mahal, sehingga mau tidak mau harga jual di tingkat konsumen pun ikut naik.

“Nah masuk pasar harga daging udah naik jadinya, harga timbang sapi udah mahal jadinya,” ujarnya.

Menurut Rifai, kenaikan harga tersebut diduga terkait dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Pada pekan ini, rupiah sempat melemah hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS, meski kemudian menguat tipis ke kisaran Rp16.847 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi.

“Kenaikan harga sapi itu ya mungkin memengaruhi dari harga dolar juga. Sebenarnya sapi dari Australia yang dibesarkan di Indonesia dibikin spek sapi potong, mungkin dari Australia-nya udah ada kenaikan harga,” papar Rifai.

Pola ketergantungan terhadap sapi impor ini membuat pedagang lokal rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya impor sapi bakalan otomatis meningkat, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga di seluruh rantai pasokan.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Dampak paling nyata dari lonjakan harga adalah anjloknya daya beli masyarakat. Rifai mengungkapkan, dalam kondisi saat ini, pendapatan mereka dalam menjual daging sapi turun drastis hingga lebih dari 50 persen.

“Sekarang daya jual rendah sedangkan harga daging mahal, daya beli menurun jauh. Jauh deh anjlok banget bisa di atas 50 persen,” ungkapnya.

Penurunan pendapatan yang tajam ini menciptakan situasi paradoks bagi para pedagang. Di satu sisi, mereka harus membeli daging dari pemasok dengan harga tinggi. Di sisi lain, konsumen tidak memiliki kemampuan atau kemauan untuk membeli dengan harga yang berlaku saat ini.

Situasi ini menempatkan pedagang dalam dilema. Jika mereka menaikkan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya pembelian, mereka berisiko kehilangan pelanggan setia yang sudah bertahun-tahun berbelanja di lapak mereka. Namun jika mempertahankan harga lama, mereka tidak akan mendapat keuntungan sama sekali, bahkan bisa merugi.

“Kita naikin juga nggak enak lah cuma kalau nggak dinaikin nggak ada untung juga buat apa, dilema,” tutup Rifai.

Bagi Halaman

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================