Aktivis Lingkungan Nilai Sanksi Perusahaan Pencemar Situ Citongtut Belum Efektif

Aktivis lingkungan
Aktivis lingkungan, Aditia Putra . Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan.

BOGORTODAY.COM Aktivis lingkungan, Aditia Putra menyoroti lemahnya sanksi yang diberikan kepada perusahaan yang diduga membuang limbah secara ilegal di Situ Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia menilai penindakan yang dilakukan selama ini belum menimbulkan efek jera sehingga pencemaran terus berulang.

Menurut Aditia, peristiwa pencemaran di Situ Citongtut bukan kali pertama terjadi. Sanksi yang dijatuhkan kepada perusahaan pelanggar umumnya hanya bersifat ringan.

“Sempat ada sanksi, tapi biasanya hanya tindak pidana ringan atau sanksi administratif. Setelah itu mereka bisa beroperasi lagi,” ujar Aditia, Senin (26/1/2026).

Ia menyebutkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah memasang kamera pengawas atau CCTV di sejumlah saluran pembuangan limbah. Namun, keberadaan perangkat tersebut dinilai belum efektif mencegah pelanggaran.

BACA JUGA :  Kabar Gembira, Perumda Tirta Pakuan Gelar Promo Pasang Baru Murah Meriah di Momentum HJB

“CCTV ada, dipasang DLH. Tapi saya rasa ini cuma seperti perangkap untuk barang bukti saja,” kata dia.

Aditia mengungkapkan, terdapat sekitar 23 perusahaan aktif yang beroperasi di sekitar Situ Citongtut. Ia menduga daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke situ tersebut berada di dalam kawasan perusahaan, sehingga sulit diakses masyarakat.

“Ada 23 perusahaan aktif di sekitar Situ Citongtut. DAS-nya berada di dalam area perusahaan, jadi masyarakat tidak bisa memantau kondisi setu secara langsung,” ujarnya.

Pencemaran tersebut diduga menyebabkan ribuan ikan mati dan berdampak langsung terhadap warga sekitar. Selain menimbulkan bau menyengat, usaha keramba milik warga setempat juga mengalami kerugian.

“Ikan di keramba masyarakat mati. Bangkai ikan itu menimbulkan bau menyengat hampir dua hari dan sangat mengganggu warga,” kata Aditia.

BACA JUGA :  Kenapa Banyak Orang Tidak Merasa Lapar di Pagi Hari? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Menurut dia, peristiwa tersebut juga sempat melumpuhkan aktivitas ekonomi warga di sekitar Situ Citongtut. Padahal, kawasan tersebut selama ini menjadi ruang aktivitas ekonomi masyarakat.

“Dua sampai tiga hari terakhir ekonomi mati. Biasanya ada pemancing, pedagang umpan, tukang lumut, sampai penjual kopi. Semua sepi,” ujarnya.

Aditia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait serius mendalami penyebab kematian massal ikan di Situ Citongtut. Ia menilai warga sudah lelah dengan persoalan pencemaran yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.

“Yang terjadi selama ini hanya harapan palsu bagi masyarakat. Harapan saya satu, kerja yang benar,” ujar Aditia.

Bagi Halaman

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================