Ketika Otoritas dan Etika Kian Tergerus di Sekolah

Sekolah
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

PERISTIWA pengeroyokan guru oleh siswa di lingkungan sekolah bukan sekedar kabar memilukan, tetapi juga alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman, tempat nilai-nilai etika dan penghormatan ditanamkan, justru berubah menjadi arena kekerasan.

Kasus ini tak bisa dibaca sebagai insiden tunggal, melainkan cermin dari persoalan yang lebih dalam yakni pudarnya otoritas guru dan rapuhnya etika sosial di lingkungan pendidikan.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, sekolah bukan hanya institusi transfer ilmu, tetapi arena pembentukan karakter dan internalisasi nilai.

Ketika kekerasan terhadap guru terjadi di dalam sekolah, ada kegagalan kolektif yang tak bisa diabaikan. Bukan hanya soal perilaku individu siswa, melainkan tentang sistem sosial yang membiarkan erosi norma berlangsung perlahan.

BACA JUGA :  BPJS Kesehatan Buka Seleksi Duta Muda 2026, Pelajar SMA Berkesempatan Jadi Duta JKN

Pudarnya Otoritas Guru

Dalam hal ini sosiolog Max Weber menyebut otoritas sebagai legitimasi sosial yang diakui oleh yang dipimpin. Guru, secara normatif, memiliki otoritas rasional-legal dan moral dalam mendidik.

Namun dalam praktik, otoritas itu kian tergerus. Guru sering kali berada pada posisi dilematis antara dituntut mendisiplinkan, tetapi dibatasi oleh ketakutan akan laporan, tekanan orang tua, hingga stigma pelanggaran HAM.

Relasi guru dan murid pun mengalami pergeseran. Guru tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai figur teladan, melainkan sekedar “penyedia layanan belajar”.

BACA JUGA :  Body Butter vs Body Lotion: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Cocok untuk Kulit?

Ketika relasi pedagogis direduksi menjadi relasi transaksional, penghormatan perlahan menghilang. Di titik inilah kekerasan menemukan celah.

Etika yang Melemah di Ruang Sekolah

Kasus pengeroyokan guru juga menandai melemahnya kontrol sosial di sekolah. Émile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie yakni kekosongan norma yang membuat individu kehilangan rambu perilaku. Sekolah yang gagal menegakkan nilai disiplin, empati, dan tanggung jawab sosial, secara tak langsung membiarkan anomie tumbuh.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================