
Aerotrak dirancang sebagai perangkat portabel berukuran kecil dengan sistem mikrokontroler yang terintegrasi sensor kualitas udara. Alat ini mampu memantau kondisi udara secara langsung, sehingga pengguna dapat mengetahui tingkat paparan polusi di sekitarnya.
Desainnya yang ringkas membuat Aerotrak ideal digunakan oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi, seperti pengemudi ojek online, pekerja lapangan, hingga pelajar. Tak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, Aerotrak juga mengusung prinsip keberlanjutan.
Casing perangkat ini dibuat dari sampah plastik daur ulang, menjadikan Aerotrak bukan sekadar alat pemantau polusi udara, tetapi juga kontribusi nyata dalam upaya pengurangan limbah plastik.
Apresiasi Kampus dan Langkah Lanjutan
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof drg Muhammad Ruslin, M Kes, Ph D, Sp B M (K), menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang diraih mahasiswa Unhas.
“Keberhasilan ini menjadi bukti daya saing mahasiswa Unhas, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi yang dihasilkan mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat dan sejalan dengan komitmen pelestarian lingkungan,” katanya.
Pasca kompetisi, tim Aerotrak mendapatkan pendampingan intensif dari Academy of Entrepreneurs serta dukungan dari pihak kampus untuk melanjutkan pengembangan produk melalui program studi independen Greenpreneurship.
Saat ini, tim Aerotrak masih menyempurnakan desain serta sistem produksi. Mereka berharap Aerotrak dapat segera dipasarkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman polusi udara yang kian meningkat.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















