
BOGORTODAY.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mewacanakan pemberian insentif baru yang lebih besar bagi mobil listrik yang menggunakan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) dibandingkan Lithium Iron Phosphate (LFP). Wacana ini muncul di tengah dominasi baterai LFP di pasar kendaraan listrik nasional.
Saat ini, terdapat sekitar 20 model mobil listrik di Indonesia yang menggunakan baterai NMC, sementara lebih dari 50 model lainnya mengandalkan baterai LFP. Keduanya merupakan jenis baterai lithium-ion yang paling umum digunakan pada kendaraan listrik saat ini.
Selain lithium-ion, terdapat pula teknologi baterai lain seperti lead-acid (SLA), nickel-metal hydride (NiMH), solid-state, nickel-cadmium, hingga ultracapacitor. Namun, dalam konteks mobil listrik modern, persaingan utama masih terjadi antara NMC dan LFP.
Perbedaan Baterai NMC dan LFP
Baterai LFP terbuat dari bahan baku utama besi dan fosfat. Sementara itu, baterai NMC menggunakan nikel dan kobalt sebagai komponen utamanya. Perbedaan bahan baku ini menghasilkan karakteristik yang berbeda pula.
Secara umum, baterai NMC memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan LFP. Keunggulan ini membuat mobil listrik berbaterai NMC mampu menempuh jarak lebih jauh dalam satu kali pengisian daya, serta memungkinkan ukuran baterai yang lebih ringkas.
Namun, kelebihan tersebut dibarengi dengan biaya produksi yang lebih mahal. Harga bahan baku nikel dan kobalt relatif tinggi, ditambah proses produksi NMC yang kompleks dan membutuhkan teknologi canggih.
Sebaliknya, baterai LFP memiliki kepadatan energi yang lebih rendah, tetapi unggul dalam hal biaya produksi dan umur pakai. Siklus pengisian daya baterai LFP cenderung lebih panjang, serta dikenal lebih stabil pada suhu tinggi. Risiko panas berlebih dan kebakaran pada baterai LFP juga lebih rendah, sehingga banyak dipilih untuk mobil listrik kelas pemula.
Segmentasi Pasar Mobil Listrik
Karena karakteristik tersebut, baterai LFP umumnya digunakan pada mobil listrik entry-level dan menengah. Sementara baterai NMC lebih banyak diaplikasikan pada model-model premium, seperti Hyundai Ioniq 6, MG Cyberster, serta seluruh lini mobil listrik BMW.
Wacana insentif yang lebih besar untuk baterai NMC dinilai dapat mendorong produsen mobil listrik di Indonesia untuk beralih ke teknologi ini. Meski demikian, pemerintah dinilai perlu menutup selisih biaya produksi antara NMC dan LFP agar harga jual mobil tetap kompetitif.
Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai insentif menjadi kunci agar baterai berbasis nikel bisa bersaing.
“Agar baterai NCM-NCA bisa bersaing dengan LFP, pemerintah tentunya harus menutup gap biaya produksi NCM/NCA yang sekitar 35–40 persen lebih mahal dari LFP per kWh-nya. Dengan begitu, mobil listrik berbasis baterai nikel bisa dijual lebih murah di pasar Indonesia,” ujarnya, Jumat (23/1).
Potensi Nikel Indonesia
Pilihan Kemenperin untuk mendorong penggunaan baterai NMC juga dinilai selaras dengan potensi sumber daya alam Indonesia. Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Berdasarkan data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), Indonesia memiliki sekitar 55 juta metrik ton cadangan nikel atau setara dengan 45 persen cadangan nikel global pada periode 2023–2024. Kondisi ini menjadikan baterai berbasis nikel sebagai peluang strategis untuk memperkuat industri kendaraan listrik nasional dari hulu hingga hilir.
Peta Baterai Mobil Listrik di Indonesia
Saat ini, pasar mobil listrik Indonesia masih didominasi oleh model-model dengan baterai LFP, terutama dari pabrikan China dan kendaraan di segmen harga terjangkau. Sementara baterai NMC lebih banyak digunakan oleh merek premium seperti BMW, Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, Mini, Volvo, dan sebagian model MG serta Xpeng.
Dengan adanya wacana insentif baru ini, peta penggunaan baterai mobil listrik di Indonesia berpotensi berubah. Jika selisih biaya produksi dapat ditekan, bukan tidak mungkin baterai NMC akan semakin banyak digunakan dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekosistem kendaraan listrik global.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















