UpScrolled Mencuri Perhatian Global, Jadi Alternatif TikTok di Tengah Isu Sensor Konten

BOGORTODAY.COM UpScrolled, aplikasi media sosial yang dikembangkan oleh Issam Hijazi, mendadak mencuri perhatian dunia setelah popularitasnya melonjak tajam di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Aplikasi ini kini disebut-sebut sebagai alternatif baru TikTok di tengah gelombang kekecewaan pengguna terhadap platform media sosial arus utama.

Lonjakan popularitas UpScrolled terjadi menyusul pengambilalihan resmi TikTok oleh investor dan perusahaan yang didukung Amerika Serikat pekan lalu.

Perubahan tersebut mendorong banyak pengguna mencari platform lain dengan konsep serupa, namun dinilai lebih transparan dan tidak membatasi ekspresi tertentu.

Situasi semakin memanas setelah TikTok secara permanen memblokir akun Bisan Owda, jurnalis pemenang Emmy Award sekaligus kontributor Al Jazeera dari Gaza. Pemblokiran tersebut memicu kemarahan publik dan seruan boikot, terutama dari kelompok pendukung Palestina. TikTok juga dituding menyensor konten yang menyoroti dugaan kekerasan berlebihan oleh Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE).

Al Jazeera melaporkan bahwa UpScrolled, yang baru didirikan sekitar satu tahun lalu, secara mengejutkan berhasil menduduki peringkat pertama aplikasi gratis kategori “jaringan sosial” di Apple App Store Amerika Serikat pada Rabu (29/1/2026). Aplikasi ini juga masuk jajaran teratas unduhan pengguna Apple di Inggris, Kanada, dan Australia.

Lonjakan unduhan terjadi seiring banyaknya pengguna TikTok yang kecewa dan beralih ke UpScrolled. Mereka tertarik dengan janji “teknologi transparan” serta kebijakan moderasi konten yang lebih terbuka. Namun, tingginya trafik sempat menyebabkan server UpScrolled mengalami gangguan sementara pada akhir pekan lalu.

Apa Itu UpScrolled?

UpScrolled memungkinkan pengguna mengunggah foto, video pendek, dan teks. Secara fungsi, aplikasi ini terasa seperti perpaduan antara X (sebelumnya Twitter) dan Instagram. Antarmukanya menyerupai X, di mana pengguna dapat menyukai, mengomentari, dan membagikan ulang unggahan.

BACA JUGA :  Resep Bubur Kacang Hijau, Menu Sarapan Hangat dan Bergizi

Saat ini, sebagian besar pengguna tampaknya lebih aktif membagikan teks dan foto dibandingkan video pendek seperti yang populer di TikTok. UpScrolled juga memiliki halaman Discover yang mirip dengan Snapchat, menampilkan topik-topik populer berdasarkan interaksi pengguna.

Isu Palestina mendominasi halaman Discover. Aplikasi ini dibanjiri ratusan unggahan yang menggambarkan penderitaan warga Jalur Gaza atau mengekspresikan solidaritas terhadap Palestina.

Sejumlah tokoh publik turut bergabung dengan UpScrolled, di antaranya Chris Smalls, aktivis buruh Amerika dan mantan pengorganisir serikat pekerja Amazon yang ikut serta dalam Konvoi Kebebasan Gaza pada Juli 2025. Aktor Amerika keturunan Yahudi, Jacob Berger—yang dikenal lewat serial Brooklyn Nine-Nine dan juga terlibat dalam Freedom Flotilla—juga tercatat sebagai pengguna aplikasi tersebut.

Pada awal pekan ini, sejumlah pengguna mengeluhkan kegagalan unggahan video. Dalam pembaruan resmi pada Kamis, pihak UpScrolled mengonfirmasi bahwa masalah tersebut disebabkan lonjakan unduhan dan menyatakan bug telah diperbaiki.

Siapa di Balik UpScrolled?

UpScrolled didirikan pada Juli 2025 oleh Issam Hijazi, pengusaha asal Palestina-Yordania-Australia yang sebelumnya berkarier di perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM. Perusahaan ini mendapat dukungan dari Tech for Palestine, sebuah proyek advokasi yang mendanai inisiatif teknologi pro-Palestina.

Dalam wawancara dengan situs teknologi Rest of World, Hijazi mengungkapkan bahwa keputusannya membangun UpScrolled dipicu oleh kekecewaan terhadap industri teknologi besar, terutama di tengah kehancuran Gaza yang oleh Komisi Penyelidikan PBB disebut sebagai genosida.

BACA JUGA :  Daftar Game Baru yang Rilis Juni 2026, Remake Legendaris Siap Ramaikan Pasar

“Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza, dan saya tidak ingin terus terlibat dalam sistem yang menurut saya ikut berkontribusi pada ketidakadilan,” ujar Hijazi.

Ia juga menyoroti tingkat sensor konten yang tinggi di platform media sosial populer. Menurutnya, banyak pengguna merasa suara mereka dibungkam melalui praktik shadow banning.

“Saya melihat celah di pasar. Banyak orang bertanya mengapa tidak ada alternatif bagi platform Big Tech yang terus menyensor konten. Jadi saya berpikir, mengapa tidak kita bangun sendiri?” katanya.

UpScrolled mengklaim hanya memoderasi konten ilegal, seperti penjualan narkoba keras, tanpa menyentuh konten politik atau isu kemanusiaan. Hijazi menegaskan bahwa algoritma UpScrolled tidak dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir tanpa henti.

“Bukan karena kami tidak tahu caranya. Membuat algoritma seperti itu sangat mudah. Tapi saya tidak ingin melakukannya karena saya tahu dampaknya terhadap manusia, terutama generasi muda,” ujarnya.

Berbeda dari platform besar lain, feed UpScrolled saat ini sepenuhnya bersifat kronologis. Sementara halaman Discover diurutkan berdasarkan tingkat interaksi, tim pengembang tengah bereksperimen menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan konten dengan minat pengguna.

Melalui situs resminya, UpScrolled menegaskan misinya untuk menyediakan ruang digital tempat pengguna dapat bebas mengekspresikan pikiran, berbagi momen, dan terhubung dengan orang lain.

Perusahaan tersebut juga menekankan bahwa UpScrolled adalah platform yang dimiliki penggunanya, bukan oleh algoritma tersembunyi atau agenda pihak luar.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================