
BOGORTODAY.COM – Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia terpapar logam berat timbal dengan kadar dalam darah yang cenderung melebihi ambang batas aman. Penelitian ini melibatkan 1.617 anak usia 1–5 tahun.
Paparan timbal dalam jangka panjang dapat berdampak serius pada perkembangan otak anak. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami cara mencegah paparan timbal sejak dini.
Cara Mencegah Paparan Timbal pada Anak
Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni, menegaskan bahwa penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci utama untuk mencegah paparan timbal pada anak.
Berikut beberapa langkah pencegahan yang perlu dilakukan orang tua:
- Mencuci tangan sebelum makan
- Mengganti pakaian setelah pulang kerja
- Membersihkan rumah secara rutin
- Membuka alas kaki sebelum masuk rumah
- Menggunakan produk yang berstandar Badan POM atau SNI
- Mengonsumsi makanan kaya kalsium, zat besi, dan vitamin C
- Memeriksakan anak secara rutin ke posyandu
Mengganti pakaian setelah pulang kerja menjadi salah satu poin yang sangat ditekankan. Menurut Wahyu, banyak kasus paparan timbal pada anak berasal dari lingkungan kerja orang tua.
“Misalnya orang tua yang ayahnya bekerja di pabrik cat. Dia pulang ke rumah masih memakai baju bekas bekerja di pabrik cat. Itu sebenarnya memberikan paparan kepada istri dan anak. Mestinya harus bersih dulu, baru memegang anak,” ujar Wahyu di Jakarta Selatan.
Selain dari pakaian kerja, paparan timbal juga bisa berasal dari mainan anak. Risiko akan meningkat jika anak sering memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut. Oleh sebab itu, orang tua dianjurkan rutin membersihkan mainan anak.
Efek Paparan Timbal terhadap Pertumbuhan Anak
Pencegahan paparan timbal tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya, dampaknya terhadap tumbuh kembang anak bersifat jangka panjang dan kumulatif.
Hal ini disampaikan Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Then Suyanti.
“Efek paparan timbal ini jangka panjang dan tidak langsung terlihat. Kadar timbal yang tinggi pun sering kali tidak menunjukkan gejala,” ujarnya.
Kandungan timbal dalam darah dapat memicu anemia. Sementara itu, paparan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan otak dan saraf, penurunan IQ dan kecerdasan, serta keterlambatan tumbuh kembang.
“Kasihan anak-anak kita, IQ-nya jadi tidak bagus, tumbuh kembangnya jelek, kemudian stunting,” kata Then.
Hal serupa juga diungkapkan Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti.
“Sejumlah studi menunjukkan bahwa paparan timbal, bahkan pada kadar terendah, mampu mengganggu perkembangan otak, fungsi kognitif, serta perilaku anak,” ujarnya, mengutip laman BRIN.
Gangguan tersebut dapat berdampak besar pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Saat ini, paparan timbal diakui sebagai salah satu ancaman kesehatan paling serius bagi anak-anak Indonesia, mengingat tubuh anak mampu menyerap timbal 4–5 kali lebih banyak dibanding orang dewasa.
Dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan langkah pencegahan sejak dini, orang tua dapat melindungi anak dari dampak buruk paparan timbal dan menjaga tumbuh kembangnya tetap optimal.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















