Indonesia Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang, Delapan Blok Berpotensi Besar Tersebar di Tiga Pulau

BOGORTODAY.COM Indonesia ternyata menyimpan kekayaan mineral strategis berupa logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) yang kini menjadi incaran dunia. Potensi besar sumber daya energi masa depan ini tersebar di sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengungkapkan terdapat delapan lokasi atau blok utama yang dinilai memiliki potensi sangat besar sebagai sumber logam tanah jarang. Seluruh blok tersebut merupakan primary resources, bukan sekadar hasil ikutan (by-product) dari mineral lain.

“Ada delapan blok yang kami nilai memiliki potensi yang sangat besar. Ini semuanya adalah primary resources, bukan by-product resources. Namun, di beberapa titik nantinya juga bisa didukung dari by-products,” ujar Brian dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Brian menjelaskan, saat ini BIM tengah melakukan penelitian secara intensif terhadap seluruh blok tersebut untuk memastikan besaran cadangan, karakteristik mineral, serta kelayakan pengelolaannya. Hasil kajian tersebut nantinya akan dikoordinasikan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam bentuk rekomendasi kebijakan.

BACA JUGA :  Daftar Game Baru yang Rilis Juni 2026, Remake Legendaris Siap Ramaikan Pasar

Rekomendasi itu akan menjadi dasar agar pengelolaan izin usaha pertambangan (IUP) logam tanah jarang dapat diberikan kepada PT Pertamina Mineral Industri Nasional (Perminas), sesuai arahan Presiden.

“Karena rare earth merupakan industri strategis, Bapak Presiden meminta agar penguasaannya dilakukan oleh badan usaha di bawah BUMN. Karena itu, pengelolaan IUP-nya akan diarahkan ke BUMN,” jelas Brian.

Adapun delapan blok yang memiliki kandungan logam tanah jarang dan mineral strategis lainnya tersebut meliputi:

  • Blok Toboali (Bangka Belitung), dengan kandungan Tungsten sekitar 8.287 ppm, REE 2.391 ppm, serta Tantalum, di area sekitar 10.000 hektare.
  • Blok Keposang (Bangka Belitung), mengandung Rare Earth Elements dengan total sekitar 1.000 ppm di lahan seluas 5.000 hektare.
  • Blok Mentikus (Bangka Belitung), memiliki kandungan Timah (Sn) mencapai 23.400 ppm dan Tungsten 9.000 ppm di area 200 hektare.
  • Blok Batubesi (Bangka Belitung), dengan kandungan Sn 5.000 ppm dan Tungsten 2.500 ppm di lahan 500 hektare.
  • Blok Melawi (Kalimantan Barat), menjadi salah satu yang terbesar dengan potensi Rare Earth Elements mencapai sekitar 81.720 ppm di area seluas 54.000 hektare.
  • Blok Boyan Hulu (Kalimantan Barat), dengan target utama Antimony sekitar 70–95 persen di area 8.492 hektare.
  • Blok Mamuju (Sulawesi Barat), memiliki kandungan Rare Earth Elements sekitar 2.000 ppm di lahan seluas 23.000 hektare.
  • Blok Bombana (Sulawesi Tenggara), mengandung REE sekitar 220 ppm serta Antimony sekitar 6.170 ppm di area 64.000 hektare.
BACA JUGA :  Maju Jadi Calon Ketua Kadin Kota Bogor Harus Siapkan Rp350 Juta, Ini Penjelasan Panitia

Brian menegaskan, pengembangan logam tanah jarang menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri nasional, khususnya untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi pertahanan.

Dengan pengelolaan terintegrasi dan dikendalikan oleh BUMN, pemerintah optimistis Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu membangun industri hilir logam tanah jarang yang bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================