
Namun demikian, Johanes mengingatkan bahwa tidak semua orang cocok mengonsumsi susu sapi. Banyak masyarakat Asia mengalami intoleransi laktosa, yakni kondisi ketika tubuh kekurangan enzim laktase untuk mencerna gula laktosa dalam susu.
“Kalau orang itu minum susu sapi, maka gula laktosanya tidak tercerna dengan baik. Di usus, gula tersebut akan menarik air dan difermentasi oleh bakteri, sehingga timbul keluhan seperti kembung, banyak gas, kadang-kadang diare juga,” ujarnya.
Bagi kelompok dengan intoleransi laktosa, konsumsi susu justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Sementara santan, meskipun tinggi lemak jenuh, bersifat bebas laktosa sehingga tidak menimbulkan masalah pencernaan serupa.
Tetap Batasi Konsumsi
Johanes menyarankan agar konsumsi santan tetap dibatasi, baik dari segi jumlah maupun kekentalannya. Santan boleh dikonsumsi sesekali, namun tidak berlebihan.
Ia mencontohkan konsumsi kolak saat Ramadhan. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak menghabiskan seluruh kuah kolak karena mengandung gula dan santan dalam jumlah tinggi.
“Kalau kita hirup semua kuah dari kolak tersebut, tentunya akan menambah risiko untuk munculnya obesitas,” kata Johanes.
Pilihan Kembali pada Kondisi Tubuh
Mengganti santan dengan susu tidak selalu lebih sehat untuk semua orang. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kondisi tubuh, toleransi terhadap laktosa, serta jumlah dan frekuensi konsumsinya.
Baik santan maupun susu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kunci utamanya adalah konsumsi secara bijak dan tidak berlebihan agar manfaat gizi tetap diperoleh tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














