
Namun proses ini tidak murah secara ekologis. Produksi salju buatan membutuhkan energi besar dan pasokan air dalam jumlah signifikan, yang biasanya diambil dari sungai atau reservoir buatan di kawasan pegunungan.
Penggunaan masif teknologi ini memunculkan kekhawatiran baru tentang dampaknya terhadap ekosistem lokal.
Meski demikian, penyelenggara menilai langkah tersebut tak terhindarkan. Tanpa suhu yang cukup dingin atau salju memadai, lintasan berisiko menjadi lembek dan licin, meningkatkan potensi cedera atlet serta mengganggu keadilan kompetisi.
Masa Depan Olimpiade Musim Dingin di Tengah Pemanasan Global
Fenomena pemanasan global membuat masa depan Olimpiade Musim Dingin semakin tidak pasti. Analisis Climate Central mencatat bahwa seluruh kota tuan rumah sejak 1950 mengalami kenaikan suhu rata-rata sekitar 1,5°C.
Riset terbaru bahkan memperkirakan bahwa dari 93 lokasi potensial tuan rumah Olimpiade Musim Dingin, hanya 52 yang diprediksi masih memiliki kondisi iklim andal pada 2050-an. Untuk Paralympic Winter Games yang digelar pada Maret—ketika suhu lebih hangat—jumlah lokasi yang layak bisa menyusut menjadi hanya 22 kota.
Dampaknya tak hanya dirasakan penyelenggara, tetapi juga atlet. Survei terhadap atlet dan pelatih profesional menunjukkan 94 persen di antaranya khawatir perubahan iklim akan memengaruhi masa depan olahraga musim dingin. Banyak atlet kini harus “mengejar salju” ke lokasi yang masih cukup dingin demi menjaga kualitas latihan mereka.
Olimpiade Musim Dingin 2026 di Milan dan Cortina bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga cermin tantangan zaman. Di tengah sorak sorai kompetisi, dunia diingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan—melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















