
Meski terasa lambat, perjalanan ini justru menjadi daya tarik utama. Penumpang dapat menikmati perbukitan hijau, hutan lebat, dan lanskap khas India Selatan yang memesona.
- Darjeeling Himalayan Railway – India
Kereta ini melintasi Pegunungan Himalaya Timur dengan kecepatan rendah karena jalur yang sempit dan berliku. Selain faktor keamanan, laju lambat memberi kesempatan bagi penumpang menikmati perkebunan teh yang luas serta puncak-puncak gunung yang tertutup salju.
Perjalanan dengan kereta ini bukan sekadar transportasi, melainkan pengalaman menyusuri lanskap klasik India yang penuh pesona.
- Rute Mettupalayam–Ooty (India)
Kereta yang menghubungkan Mettupalayam dan Ooty ini melaju dengan kecepatan sekitar 9 kilometer per jam. Jalurnya membentang di dataran tinggi dengan rel berkelok, hutan rimbun, serta air terjun yang memanjakan mata.
Bagi wisatawan, perjalanan ini terasa seperti wisata alam yang bergerak perlahan di atas rel.
- Howrah-Amritsar Express – India
Kereta ini memiliki kecepatan rata-rata sekitar 20–30 kilometer per jam. Meski tergolong lambat, perjalanan panjangnya menghadirkan ragam lanskap, mulai dari pedesaan yang tenang hingga hiruk pikuk kota-kota besar India.
Perubahan panorama yang kontras membuat perjalanan terasa dinamis tanpa harus terburu-buru.
- Rute Te Anau–Manapouri – Selandia Baru
Di Pulau Selatan Selandia Baru, kereta wisata yang melintasi rute Te Anau menuju Manapouri bergerak perlahan menyusuri hutan belantara. Perjalanan ini memang dirancang lambat agar wisatawan dapat menikmati lanskap alami yang masih asri dan jarang tersentuh.
- West Highland Line – Skotlandia
Jalur West Highland membawa penumpang dari Glasgow menuju Mallaig, melintasi dataran tinggi Skotlandia. Untuk menempuh jarak sekitar 180 kilometer, kereta membutuhkan waktu yang cukup panjang karena medan terjal dan berkelok.
Namun, sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan danau, perbukitan, hingga kastel-kastel tua yang berdiri megah.
Kereta-kereta ini mengingatkan bahwa perjalanan bukan sekadar soal tiba lebih cepat. Di atas rel yang berkelok dan menanjak, waktu seolah melambat—memberi ruang bagi penumpang untuk benar-benar hadir, melihat, dan merasakan.
Di dunia yang serba cepat, mungkin justru perjalanan lambatlah yang paling bermakna.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















