Marhaban Ya Ramadhan

Ramadhan
Agus Jatmika (Pemerhati Masalah Sosial-Komunikasi)

Oleh: Agus Jatmika (Pemerhati Masalah Sosial-Komunikasi)

Setiap tahun, sebuah bulan datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak mengetuk pintu dengan suara gaduh, melainkan dengan getar yang pelan tapi terasa. Suasana berubah, ritme kehidupan melambat. Ada jeda yang tiba-tiba kita sadari, seolah waktu sendiri meminta kita untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri.

Ramadhan bukan sekedar momentum ritual, tetapi peristiwa sosial yang menyentuh hampir seluruh lapisan kehidupan. Dari lorong perkampungan hingga pusat kota, dari ruang keluarga hingga ruang digital, semuanya bergerak dalam irama yang sama : menahan, menata, dan memaknai ulang.

Dalam perspektif komunikasi sosial, bulan ini menghadirkan fenomena yang menarik. Bahasa menjadi lebih santun, sapaan terasa lebih hangat. Orang-orang yang lama tak bertegur sapa mendadak menemukan alasan untuk kembali membuka percakapan. Grup percakapan keluarga yang semula hening berubah menjadi ruang berbagi doa dan harapan.

BACA JUGA :  Lepas E4 EV Resmi Meluncur di Indonesia, SUV Listrik Baru Siap Tantang BYD Atto 3

Ada energi kolektif yang sulit dijelaskan, tetapi nyata dirasakan. Seolah-olah masyarakat sedang mengikuti latihan bersama, sebuah latihan mengendalikan diri, menata emosi, dan meredam ego.

Puasa, pada hakikatnya, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga disiplin komunikasi batin. Di tengah dunia yang serba reaktif, ia mengajarkan respons yang tertunda. Di tengah budaya yang gemar menyalahkan, ia mengajarkan introspeksi. Dalam masyarakat yang terbiasa bising, ia menawarkan hening.

BACA JUGA :  Benarkah Alergi Orang Tua Pasti Menurun ke Anak? Ini Penjelasan Dokter

Menariknya, perubahan itu tidak hanya terjadi di ruang ibadah. Pasar menjadi lebih hidup menjelang senja, anak-anak berlatih lantunan ayat, dan berbagai gerakan berbagi tumbuh di banyak sudut kota. Ada solidaritas sosial yang menguat. Ada empati yang menemukan ruangnya.

Sementara itu di era digital, makna juga menghadapi tantangan. Kebaikan mudah dipublikasikan, kesalehan mudah dipertontonkan, dan empati bisa berubah menjadi konten. Ruang media sosial kerap dipenuhi pesan-pesan spiritual, tetapi sekaligus menjadi panggung eksistensi. Disinilah kedewasaan komunikasi diuji.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================