BOGORTODAY.COM – Maraknya kasus penipuan digital mendorong lahirnya inovasi berbasis teknologi untuk membantu masyarakat lebih waspada.
Salah satunya adalah platform deteksi dini berbasis web tanya.fadli.id, yang dirancang untuk mengidentifikasi potensi penipuan digital secara cepat dan gratis.
Platform ini dikembangkan oleh Miftahul Fadli Muttaqin, pakar IT sekaligus Dosen Teknik Informatika Universitas Pasundan.
Ia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna membantu masyarakat menganalisis pesan atau komunikasi mencurigakan sebelum mengambil keputusan.
Cara Kerja Platform
Pengguna cukup mengakses situs tanya.fadli.id melalui peramban. Untuk melakukan pengecekan, tersedia beberapa opsi:
- Mengunggah tangkapan layar percakapan mencurigakan
- Menyalin isi chat atau pesan
- Menjelaskan kronologi kejadian secara tertulis
Sistem AI kemudian akan:
- Menganalisis pola bahasa dan indikasi rekayasa sosial
- Memeriksa tautan yang berpotensi berbahaya
- Mencocokkan temuan dengan database modus penipuan terbaru
Hasil analisis ditampilkan dalam bentuk skor risiko 0–100, lengkap dengan rekomendasi langkah yang dapat dilakukan pengguna.
“Aplikasi ini kami rancang sebagai alat bantu sebelum seseorang mengambil keputusan. Kami ingin masyarakat memiliki referensi tambahan agar tidak bertindak dalam kondisi panik,” ujar Fadli dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Ribuan Kunjungan per Hari
Sejak dirilis pada 1 Januari 2026, platform ini mencatat ribuan kunjungan setiap hari. Tingginya angka tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat akan solusi perlindungan digital yang praktis, cepat, dan mudah diakses.
Di tengah meningkatnya transaksi digital dan aktivitas daring, ancaman penipuan juga semakin kompleks. Kehadiran platform ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif sebelum kerugian terjadi.
Keamanan Data Jadi Prioritas
Fadli menegaskan bahwa perlindungan data pengguna menjadi perhatian utama. Secara default, sistem tidak mempublikasikan data yang diunggah pengguna.
Jika pengguna memilih membagikan pengalamannya untuk edukasi publik, sistem akan otomatis menyensor informasi sensitif seperti nomor rekening, nomor telepon, atau identitas pribadi lainnya.
“Kami tidak menyimpan data pribadi tanpa izin. Prinsipnya, teknologi harus membantu melindungi, bukan menambah risiko,” jelasnya.
Ancaman Penipuan Digital Kian Serius
Penipuan digital kini menjadi ancaman nyata di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Modus yang digunakan pelaku semakin beragam, antara lain:
- Mengaku sebagai pihak bank
- Mengatasnamakan kurir pengiriman
- Penawaran investasi dengan iming-iming keuntungan besar
- Penyalahgunaan identitas melalui teknik social engineering
Para pelaku kerap menyusun pesan menyerupai komunikasi resmi, lengkap dengan logo perusahaan, bahasa formal, dan nada mendesak. Korban sering kali terjebak karena sulit membedakan pesan asli dengan yang palsu.
Data Kerugian Capai Triliunan Rupiah
Skala persoalan ini terlihat dari data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sepanjang November 2024 hingga Desember 2025 tercatat:
- 411 ribu pengaduan penipuan digital
- Total kerugian mencapai Rp9,1 triliun
- Hanya sekitar Rp383,6 miliar (kurang dari 5 persen) dana yang berhasil diselamatkan
- Sekitar 85 persen korban melapor lebih dari 12 jam setelah kejadian
Keterlambatan pelaporan membuat pelacakan dana menjadi jauh lebih sulit.
Tantangan Literasi Digital dan Deepfake
Rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan besar. Terlebih dengan kemunculan teknologi seperti deepfake yang mampu memalsukan suara dan video secara meyakinkan.
Dalam situasi panik akibat tekanan atau ancaman dari pelaku, banyak korban mengambil keputusan tanpa sempat melakukan verifikasi. Di sinilah peran platform deteksi dini seperti tanya.fadli.id menjadi relevan—memberikan waktu dan ruang bagi masyarakat untuk berpikir jernih sebelum bertindak.
Upaya Preventif di Era Digital
Hadirnya tanya.fadli.id menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menjadi medium kejahatan siber, tetapi juga dapat menjadi solusi pencegahan.
Dengan kombinasi kecerdasan buatan, edukasi digital, dan kesadaran masyarakat, diharapkan angka penipuan digital dapat ditekan. Pada akhirnya, perlindungan terbaik tetap dimulai dari kewaspadaan dan kebiasaan memverifikasi setiap informasi sebelum mengambil keputusan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















