
Program Artemis sempat mengejutkan publik ketika NASA menyatakan Artemis 2 bisa diluncurkan lebih cepat dari perkiraan. Percepatan ini terkait dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menjaga keunggulan Amerika dalam perlombaan antariksa.
Namun perjalanan program Artemis tidak mulus. Misi tanpa awak Artemis 1 baru terlaksana pada November 2022 setelah beberapa kali penundaan dan dua kali upaya peluncuran gagal. Awal Februari 2026, kebocoran hidrogen cair juga memaksa NASA menghentikan uji coba penting wet dress rehearsal yang mensimulasikan kondisi peluncuran sesungguhnya.
Misi Artemis 2: Penerbangan Bersejarah
Artemis 2 dirancang sebagai penerbangan selama 10 hari mengitari Bulan sebelum kembali ke Bumi. Tujuannya adalah membuka jalan bagi misi pendaratan manusia berikutnya, sekaligus menjadi fondasi eksplorasi Mars.
Awak misi terdiri dari tiga astronaut AS, Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta astronaut Kanada Jeremy Hansen. Artemis 2 akan menjadi penerbangan manusia terjauh dalam sejarah dan misi berawak ke Bulan pertama sejak era Apollo lebih dari setengah abad lalu.
Misi ini juga menjadi batu loncatan menuju Artemis 3 yang dijadwalkan pada 2028, dengan ambisi mendaratkan manusia kembali di permukaan Bulan.
Prioritas Keselamatan di Atas Segalanya
Meski penundaan ini mengecewakan publik, NASA menegaskan bahwa keselamatan awak misi tetap menjadi prioritas utama. Dalam eksplorasi antariksa, satu komponen kecil yang bermasalah bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah misi bersejarah.
Dengan pemeriksaan teknis lebih lanjut dan perbaikan sistem helium, NASA berharap Artemis 2 dapat diluncurkan dengan aman dan sukses, melanjutkan tradisi Amerika Serikat dalam eksplorasi Bulan dan antariksa.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















