BOGORTODAY.COM – Seiring bertambahnya usia, otak manusia secara alami akan mengalami penyusutan. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai atrofi serebri.
Meski merupakan bagian dari proses penuaan yang wajar, penurunan fungsi kognitif dan motorik bisa terjadi lebih cepat akibat gaya hidup yang kurang sehat.
Spesialis Bedah Saraf, dr. Dimas Rahman Setiawan, SpBS, mengungkapkan bahwa sejumlah kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele justru menjadi pemicu utama otak kehilangan volumenya lebih dini.
Berikut tiga kebiasaan yang perlu diwaspadai agar kesehatan otak tetap terjaga:
- Pola Makan “Asal Kenyang”
Masih banyak orang yang menerapkan prinsip makan sekadar membuat perut kenyang tanpa memerhatikan kandungan nutrisi. Konsumsi karbohidrat berlebih—seperti nasi dalam porsi besar—sering kali tidak diimbangi dengan asupan protein dan mikronutrisi yang cukup.
Menurut dr. Dimas, nutrisi yang baik adalah nutrisi yang seimbang. Jika otak kekurangan protein, vitamin, dan mineral penting, maka proses regenerasi sel saraf tidak berjalan optimal.
Otak membutuhkan “bahan bakar” berkualitas untuk menjaga daya ingat, konsentrasi, serta fungsi berpikir tetap tajam. Pola makan yang timpang dalam jangka panjang dapat mempercepat penurunan fungsi tersebut.
- Gaya Hidup ‘Mager’
Kurangnya aktivitas fisik atau gaya hidup malas gerak (mager) juga berdampak langsung pada kesehatan otak. Olahraga bukan hanya membentuk otot, tetapi juga meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak.
Saat tubuh aktif bergerak, sirkulasi darah menjadi lebih lancar. Oksigen dan nutrisi dari makanan dapat terserap secara maksimal oleh sel-sel saraf. Tanpa aktivitas fisik yang cukup, suplai nutrisi ke otak tidak optimal, sehingga berisiko mempercepat proses penyusutan.
Aktivitas sederhana seperti jalan kaki rutin, bersepeda, atau senam ringan sudah cukup membantu menjaga fungsi otak tetap prima.
- Berhenti Berpikir dan Menarik Diri dari Sosial
Memasuki usia 40 hingga 50 tahun ke atas, sebagian orang mulai mengurangi aktivitas dengan alasan sudah tidak muda lagi. Padahal, kebiasaan berhenti berpikir aktif dan menarik diri dari lingkungan sosial justru dapat menjadi bumerang.
Otak bekerja layaknya otot. Jika jarang digunakan, kemampuannya akan menurun. Kurangnya stimulasi mental membuat sel-sel saraf tidak terlatih, sehingga volume otak bisa menyusut lebih cepat.
- Dimas menekankan pentingnya memiliki aktivitas harian yang melibatkan proses berpikir dan interaksi sosial. Bekerja, menjalankan hobi, membaca, berdiskusi, hingga terlibat dalam kegiatan komunitas seperti pengajian, gereja, PKK, atau Posyandu dapat menjadi stimulasi positif bagi otak.
Lindungi Otak Sejak Dini
Menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan prosedur medis yang rumit. Langkah sederhana seperti memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, serta tetap aktif secara mental dan sosial sudah menjadi fondasi kuat untuk mencegah penuaan dini pada otak.
Dengan gaya hidup yang lebih sehat dan seimbang, risiko atrofi serebri dapat ditekan, sehingga kualitas hidup tetap terjaga hingga usia lanjut.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















