
Sampah bertambah, pemborosan menjadi lumrah, dan kesunyian spiritual tertutup oleh kebisingan gaya hidup. Di sinilah Ramadhan kehilangan sebagian daya kritik sosialnya, padahal di dalamnya tersimpan pesan ekologis yang sangat kuat.
Kesadaran itulah yang mulai dirawat melalui Program Pesantren Ramadhan yang digagas oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Program ini tidak berhenti pada penguatan ibadah ritual, tetapi merentangkannya ke ruang praksis kehidupan.
Peserta didik diajak memahami bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari latihan spiritual seperti menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat sumber daya, dan memperlakukan alam dengan sikap hormat.
Dalam perspektif sosial dan komunikasi, pendekatan ini menghadirkan pesan yang hidup. Nilai tidak hanya disampaikan, tetapi dialami.
Ketika peserta didik terlibat langsung dalam tindakan-tindakan kecil yang berdampak besar, pesan moral tidak lagi terasa abstrak, namun akan menjadi kebiasaan, kesadaran, dan perlahan membentuk cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan bumi.
Bencana yang terus berulang di Jawa Barat memberi konteks yang kuat bagi pembelajaran ini. Alam tidak sedang menghukum, ia sedang merespons.
Respons itu mengingatkan bahwa keseimbangan adalah sesuatu yang harus dijaga bersama. Ramadhan, dengan segala kesunyiannya, menjadi ruang yang tepat untuk mendengar kembali suara itu, sebelum ia kembali berbicara dengan cara yang lebih keras.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















