Ketika Ramadhan Mendengar Suara Bumi

Ramadhan
Agus Jatmika (Pemerhati Sosial-Komunikasi)

Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial-Komunikasi)

RAMADHAN datang dengan sunyi yang khas. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah benar-benar berhenti, bulan ini menghadirkan jeda, seakan waktu diminta melambat agar manusia sempat mendengar.

Bukan hanya suara hati yang lama terabaikan, tetapi juga suara bumi yang kian sering berbicara melalui getar yang getir: hujan yang turun tanpa jeda, tanah yang tak lagi kokoh memeluk akar, dan air yang meluap melampaui batasnya.

BACA JUGA :  Apple Umumkan iOS 27 dan macOS 27, iPhone 11 Masih Kebagian Update

Beberapa waktu terakhir, bencana hidrometeorologi kembali menyapa sejumlah wilayah di Jawa Barat. Banjir dan longsor bukan hanya peristiwa alam, melainkan peristiwa sosial yang mengubah ritme kehidupan, memutus akses, dan memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan manusia dengan ruang hidupnya sendiri.

Alam seakan mengirimkan pesan yang sama berulang kali, hanya saja manusia sering kali terlalu bising untuk mendengarkannya.

Di titik inilah Ramadhan menemukan maknanya yang lebih luas. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan panjang untuk memahami batas.

BACA JUGA :  7 Pulau Terkecil di Dunia yang Menyimpan Pesona Luar Biasa

Menahan diri dari yang berlebihan, belajar cukup, dan menyadari bahwa setiap tindakan manusia selalu meninggalkan jejak baik itu pada tubuh, pada sesama, dan pada alam. Ramadhan mengajarkan bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan kebijaksanaan.

Sementara itu ironi kerap menyertai. Di saat puasa mengajarkan pengendalian, justru konsumsi meningkat.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================