Ketika Ramadhan Mendengar Suara Bumi

Ramadhan
Agus Jatmika (Pemerhati Sosial-Komunikasi)

Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial-Komunikasi)

RAMADHAN datang dengan sunyi yang khas. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah benar-benar berhenti, bulan ini menghadirkan jeda, seakan waktu diminta melambat agar manusia sempat mendengar.

Bukan hanya suara hati yang lama terabaikan, tetapi juga suara bumi yang kian sering berbicara melalui getar yang getir: hujan yang turun tanpa jeda, tanah yang tak lagi kokoh memeluk akar, dan air yang meluap melampaui batasnya.

Beberapa waktu terakhir, bencana hidrometeorologi kembali menyapa sejumlah wilayah di Jawa Barat. Banjir dan longsor bukan hanya peristiwa alam, melainkan peristiwa sosial yang mengubah ritme kehidupan, memutus akses, dan memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan manusia dengan ruang hidupnya sendiri.

Alam seakan mengirimkan pesan yang sama berulang kali, hanya saja manusia sering kali terlalu bising untuk mendengarkannya.

Di titik inilah Ramadhan menemukan maknanya yang lebih luas. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan panjang untuk memahami batas.

BACA JUGA :  Meriahkan KaBogor Fest, Tirta Kahuripan Dekatkan Pelayanan dan Perluas Akses Air Bersih bagi Masyarakat

Menahan diri dari yang berlebihan, belajar cukup, dan menyadari bahwa setiap tindakan manusia selalu meninggalkan jejak baik itu pada tubuh, pada sesama, dan pada alam. Ramadhan mengajarkan bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan kebijaksanaan.

Sementara itu ironi kerap menyertai. Di saat puasa mengajarkan pengendalian, justru konsumsi meningkat.

Sampah bertambah, pemborosan menjadi lumrah, dan kesunyian spiritual tertutup oleh kebisingan gaya hidup. Di sinilah Ramadhan kehilangan sebagian daya kritik sosialnya, padahal di dalamnya tersimpan pesan ekologis yang sangat kuat.

Kesadaran itulah yang mulai dirawat melalui Program Pesantren Ramadhan yang digagas oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat. Program ini tidak berhenti pada penguatan ibadah ritual, tetapi merentangkannya ke ruang praksis kehidupan.

Peserta didik diajak memahami bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari latihan spiritual seperti menjaga kebersihan, mengelola sampah, menghemat sumber daya, dan memperlakukan alam dengan sikap hormat.

BACA JUGA :  Seberapa Sering Buang Air Normal? Ini Penjelasan Medis tentang BAK dan BAB

Dalam perspektif sosial dan komunikasi, pendekatan ini menghadirkan pesan yang hidup. Nilai tidak hanya disampaikan, tetapi dialami.

Ketika peserta didik terlibat langsung dalam tindakan-tindakan kecil yang berdampak besar, pesan moral tidak lagi terasa abstrak, namun akan menjadi kebiasaan, kesadaran, dan perlahan membentuk cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan bumi.

Bencana yang terus berulang di Jawa Barat memberi konteks yang kuat bagi pembelajaran ini. Alam tidak sedang menghukum, ia sedang merespons.

Respons itu mengingatkan bahwa keseimbangan adalah sesuatu yang harus dijaga bersama. Ramadhan, dengan segala kesunyiannya, menjadi ruang yang tepat untuk mendengar kembali suara itu, sebelum ia kembali berbicara dengan cara yang lebih keras.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================