
Dari sisi agama, prosedur hemodialisis dinilai dapat membatalkan puasa. Hal ini karena dalam prosesnya terdapat pemasukan kembali darah ke dalam tubuh dengan komponen yang bersifat nutrisi dalam jumlah besar, mirip dengan pemberian cairan dan makanan melalui infus.
Selain itu, selama proses hemodialisis terjadi perubahan signifikan pada cairan dan nutrisi tubuh. Oleh sebab itu, mayoritas pandangan menyebut tindakan ini membatalkan puasa.
Bolehkah Tetap Berpuasa?
Meski tidak dianjurkan, pasien gagal ginjal masih dimungkinkan berpuasa di luar jadwal cuci darah, dengan catatan kondisi medis memungkinkan dan mendapat persetujuan dokter. Artinya, saat hari menjalani hemodialisis, pasien tidak dianjurkan untuk berpuasa.
Keputusan untuk berpuasa atau tidak harus melalui konsultasi medis. Dokter akan:
- Mengevaluasi kondisi kesehatan secara menyeluruh
- Menyesuaikan jadwal dan dosis obat
- Memberikan panduan pola makan dan cairan
- Memantau kondisi selama bulan puasa
Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Tetap Berpuasa
Bagi pasien gagal ginjal yang telah mendapat izin dokter untuk berpuasa, berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
- Konsultasi rutin dengan dokter, serta pemantauan berkala kondisi tubuh.
- Segera batalkan puasa jika kreatinin plasma naik 30 persen.
Tanda-tandanya meliputi tubuh lemas, mual, muntah, urine berwarna gelap, pembengkakan, kram, kulit gatal, dan gangguan tidur. - Monitoring dua kali seminggu untuk memastikan kondisi tetap stabil.
- Hindari makanan tinggi kalium, seperti pisang, nangka, alpukat, gorengan, kacang-kacangan, singkong, keju, soda, kopi, dan teh.
- Konsumsi cairan 1–2,5 liter secara bertahap antara berbuka hingga sahur, sesuai anjuran dokter.
- Tetap minum obat sesuai resep.
- Tidak berpuasa pada hari jadwal cuci darah.
Pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis termasuk kelompok berisiko sangat tinggi sehingga umumnya tidak dianjurkan berpuasa. Selain pertimbangan medis, prosedur cuci darah juga dinilai membatalkan puasa dari sisi agama.
Karena itu, keputusan berpuasa harus didasarkan pada konsultasi dengan dokter. Keselamatan dan kestabilan kondisi kesehatan tetap menjadi prioritas utama dibandingkan memaksakan diri menjalani ibadah puasa dalam kondisi berisiko tinggi.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















