Perang Iran Picu Krisis Komunikasi dan Korban Sipil, Warga Teheran Hidup dalam Ketakutan

Serangan militer yang terjadi di berbagai wilayah juga memakan banyak korban sipil. Laporan dari organisasi hak asasi manusia Human Rights Activists in Iran yang berbasis di Amerika Serikat mencatat hingga 8 Maret sedikitnya 1.205 warga sipil tewas.

Dari jumlah tersebut, setidaknya 194 korban merupakan anak-anak. Sementara itu, korban dari kalangan militer dilaporkan mencapai 187 orang, dan sekitar 316 korban lainnya belum dapat dipastikan statusnya sebagai warga sipil atau personel militer.

Salah satu peristiwa paling tragis terjadi pada hari pertama perang ketika sebuah sekolah perempuan di kota Minab diserang. Sedikitnya 110 siswi berusia tujuh hingga dua belas tahun dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut.

Investigasi terpisah yang dilakukan oleh The New York Times dan kelompok jurnalisme investigatif Bellingcat menunjukkan bahwa serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh militer Amerika Serikat. Jika terbukti benar, insiden itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

BACA JUGA :  Kemensos Usulkan Lansia dan Disabilitas Masuk Program MBG

Minim perlindungan bagi warga

Peneliti hak asasi manusia asal Iran yang kini tinggal di Swedia, Moin Khazaeli, menilai bahwa tidak ada pihak yang benar-benar mematuhi aturan hukum perang dalam konflik ini.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah fasilitas seperti depot minyak tidak selalu dapat dikategorikan sebagai target militer. Selain itu, banyak serangan juga terjadi di kawasan padat penduduk.

Menurut Khazaeli, warga sipil di Iran tidak memiliki perlindungan yang memadai. Kota-kota besar seperti Teheran tidak dilengkapi sirene peringatan atau bunker perlindungan. Bahkan informasi mengenai langkah keselamatan bagi masyarakat juga sangat terbatas, terutama karena akses internet telah diputus.

BACA JUGA :  Studi Ungkap Diet Intermittent Tak Hanya Turunkan Berat Badan, tetapi Juga Mempengaruhi Fungsi Otak

Seruan bantuan internasional

Khazaeli menilai komunitas internasional perlu mendorong dibukanya akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Iran yang terdampak perang. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Iran memiliki tanggung jawab besar terhadap situasi yang sedang terjadi.

Sebelum konflik memanas, banyak warga Iran sebenarnya berharap adanya perubahan politik setelah gelombang demonstrasi nasional yang terjadi sebelumnya. Namun dengan berlangsungnya perang yang semakin panjang, harapan tersebut kini semakin memudar.

Meski kondisi semakin berbahaya, sebagian besar warga tetap bertahan di Teheran karena alasan ekonomi. Banyak dari mereka harus terus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, sambil menghadapi ketidakpastian situasi politik setelah penunjukan pemimpin baru Iran, Mostafa Chamenei.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================