
Tak lama setelah serangan di Pulau Kharg, drone Iran dilaporkan menyerang terminal minyak utama di Fujairah yang berada di wilayah Uni Emirat Arab. Wilayah Fujairah sendiri merupakan jalur ekspor penting yang berada di luar Selat Hormuz dan menjadi pintu keluar bagi sekitar satu juta barel minyak mentah Murban per hari, atau setara dengan sekitar satu persen dari total permintaan minyak dunia.
Analis energi dari JPMorgan Chase, Natasha Kaneva, menilai peristiwa tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk. Menurutnya, meningkatnya risiko keamanan di jalur distribusi energi dapat memberikan dampak besar terhadap stabilitas pasar minyak global.
Selain fasilitas di Fujairah, sejumlah infrastruktur energi penting lain di kawasan Teluk juga dinilai berada dalam kondisi rentan. Terminal ekspor minyak Ras Tanura serta fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi termasuk dalam daftar instalasi energi strategis yang berpotensi menjadi sasaran serangan.
Akibat berbagai gangguan tersebut, pasokan minyak global diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Laporan dari International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa distribusi minyak dunia berpotensi berkurang hingga delapan juta barel per hari pada Maret 2026. Di saat yang sama, produsen minyak di kawasan Timur Tengah juga dilaporkan telah memangkas produksi hingga sepuluh juta barel per hari.
Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan pemerintahnya memperkirakan konflik dengan Iran tidak akan berlangsung lama. Ia menyebut perang tersebut kemungkinan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Jika situasi mereda, pasokan minyak global diperkirakan akan kembali stabil dan harga energi dapat menurun secara bertahap.
Namun demikian, upaya diplomatik untuk meredakan konflik hingga kini masih menemui jalan buntu. Pemerintahan Trump dilaporkan menolak inisiatif sejumlah negara Timur Tengah yang berupaya membuka jalur negosiasi damai.
Sementara itu, Iran juga menegaskan tidak akan mempertimbangkan gencatan senjata selama serangan dari Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung. Kondisi ini membuat ketidakpastian di pasar energi dunia diprediksi masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














