Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Konflik AS–Israel Melawan Iran

Minyak
Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Konflik AS–Israel Melawan Iran. (Foto: REUTERS)

BOGORTODAY.COM – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki minggu ketiga diperkirakan akan terus mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Situasi tersebut diperparah oleh terganggunya jalur distribusi minyak utama dunia setelah penutupan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi rute penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak global.

Lonjakan harga minyak pun tak terhindarkan. Harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil dan West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat dilaporkan melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini.

Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke titik tertinggi sejak 2022. Lonjakan terjadi setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu keputusan Teheran untuk menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Donald Trump mendesak negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang guna membantu mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat juga disebut tengah menyiapkan pembentukan koalisi internasional yang bertugas mengawal kapal tanker agar tetap dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz.

Ketegangan semakin meningkat setelah Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Ancaman tersebut muncul setelah militer Amerika Serikat melakukan serangan terhadap sejumlah target militer Iran pada Sabtu (14/3/2026).

BACA JUGA :  Mengapa Air Zamzam Tidak Pernah Habis? Ini Penjelasan dari Sisi Keagamaan dan Ilmiah

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran yang bersiap melakukan langkah balasan.

Tak lama setelah serangan di Pulau Kharg, drone Iran dilaporkan menyerang terminal minyak utama di Fujairah yang berada di wilayah Uni Emirat Arab. Wilayah Fujairah sendiri merupakan jalur ekspor penting yang berada di luar Selat Hormuz dan menjadi pintu keluar bagi sekitar satu juta barel minyak mentah Murban per hari, atau setara dengan sekitar satu persen dari total permintaan minyak dunia.

Analis energi dari JPMorgan Chase, Natasha Kaneva, menilai peristiwa tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk. Menurutnya, meningkatnya risiko keamanan di jalur distribusi energi dapat memberikan dampak besar terhadap stabilitas pasar minyak global.

Selain fasilitas di Fujairah, sejumlah infrastruktur energi penting lain di kawasan Teluk juga dinilai berada dalam kondisi rentan. Terminal ekspor minyak Ras Tanura serta fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi termasuk dalam daftar instalasi energi strategis yang berpotensi menjadi sasaran serangan.

BACA JUGA :  Prabowo Ganti Pimpinan Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk Jadi Kepala Baru

Akibat berbagai gangguan tersebut, pasokan minyak global diperkirakan mengalami penurunan signifikan. Laporan dari International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa distribusi minyak dunia berpotensi berkurang hingga delapan juta barel per hari pada Maret 2026. Di saat yang sama, produsen minyak di kawasan Timur Tengah juga dilaporkan telah memangkas produksi hingga sepuluh juta barel per hari.

Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan pemerintahnya memperkirakan konflik dengan Iran tidak akan berlangsung lama. Ia menyebut perang tersebut kemungkinan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Jika situasi mereda, pasokan minyak global diperkirakan akan kembali stabil dan harga energi dapat menurun secara bertahap.

Namun demikian, upaya diplomatik untuk meredakan konflik hingga kini masih menemui jalan buntu. Pemerintahan Trump dilaporkan menolak inisiatif sejumlah negara Timur Tengah yang berupaya membuka jalur negosiasi damai.

Sementara itu, Iran juga menegaskan tidak akan mempertimbangkan gencatan senjata selama serangan dari Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung. Kondisi ini membuat ketidakpastian di pasar energi dunia diprediksi masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================