
Pakar menyarankan penggunaan teknik sederhana dari Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Caranya, cobalah tantang pikiran negatif Anda: Apakah kesedihan ini muncul karena fakta yang mengancam, atau hanya sekadar asumsi yang diperburuk oleh rasa sepi? Dengan melihat situasi secara objektif, Anda akan menyadari bahwa tidak mudik bukanlah sebuah kegagalan hidup, melainkan hanya sebuah fase sementara.
- Puasa Media Sosial Sejenak
Di hari Lebaran, linimasa media sosial akan dibanjiri oleh foto keluarga dan momen kebersamaan teman-teman. Bagi Anda yang sedang sendirian, paparan konten ini bisa memicu rasa rendah diri (minder) dan memperdalam rasa sedih.
- Detoks Digital: Fokuslah pada diri sendiri dan hargai kondisi Anda saat ini tanpa membandingkannya dengan layar ponsel.
- Ganti Fungsi: Gunakan ponsel hanya untuk berkomunikasi langsung (video call atau telepon) dengan keluarga guna melepas rindu, alih-alih hanya mengintip kehidupan orang lain di media sosial.
- Melatih Mindfulness (Kesadaran Penuh)
Momen Lebaran di perantauan bisa menjadi waktu yang tepat untuk melatih mindfulness. Alih-alih membiarkan pikiran terjebak pada penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan, cobalah untuk hadir sepenuhnya di detik ini.
Sadarilah bahwa ketenangan di perantauan dapat dimanfaatkan untuk membangun energi positif. Ingat kembali motivasi awal Anda merantau: perjuangan demi masa depan. Menganggap absennya Anda di kampung halaman sebagai “investasi mental” akan membantu Anda melihat situasi ini sebagai proses pendewasaan, bukan hukuman.
Lebaran memang identik dengan kebersamaan, namun makna kemenangan Idul Fitri juga terletak pada kemampuan kita menguasai diri dan tetap bersyukur dalam kondisi apa pun.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















