
Sebaliknya, keterlibatan militer AS di kawasan tersebut dinilai semakin tidak populer di mata masyarakat Asia Tenggara. Lonjakan harga gas yang memukul ekonomi warga kian memperburuk citra Washington, sementara Beijing cukup tampil sebagai pendukung perdagangan bebas dan multilateralisme untuk meraih simpati.
Namun, ketergantungan pada Cina bukan tanpa risiko. Contohnya Kamboja, yang mulai merasakan dampak setelah Beijing membatasi ekspor bahan bakar demi mengamankan stok domestik mereka sendiri.
Momentum Transisi ke Energi Hijau
Krisis ini diprediksi akan mengubah peta energi jangka panjang di kawasan. Kekhawatiran akan ketergantungan pada minyak Timur Tengah membuka jalan bagi percepatan transisi ke energi terbarukan—sektor di mana perusahaan-perusahaan Cina memegang kendali pasar yang sangat kompetitif.
Cina saat ini merupakan investor utama dalam industri baterai dan kendaraan listrik di Asia Tenggara, serta pendana besar bagi proyek tenaga surya dan hidroelektrik. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, dalam Forum Boao menekankan pentingnya kerja sama ASEAN-Cina dalam membangun jaringan listrik regional yang lebih mandiri.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, Asia Tenggara kemungkinan besar akan semakin mempercepat langkahnya menuju energi hijau, sebuah pergeseran strategis yang dipastikan akan memperkuat dominasi ekonomi Cina di kawasan ini.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















