Mengenal Sosok “Si Pulau”: Apa Itu Avoidant Attachment?

Avoidant Attachment
Mengenal Sosok "Si Pulau": Apa Itu Avoidant Attachment? (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Mengutip dari Simply Psychology, gaya kelekatan penghindar (avoidant attachment) berakar dari ketakutan yang mendalam terhadap penolakan, kritik, atau rasa malu. Alih-alih mencari sandaran saat merasa terancam, individu dengan tipe ini justru membangun tembok tinggi sebagai bentuk perlindungan diri.

Pakar hubungan, Stan Tatkin, memberikan analogi yang menarik dengan menyebut mereka sebagai “Si Pulau”. Mereka tampak kokoh, mandiri, dan berdaulat di atas kaki sendiri, namun sebenarnya terpisah dari daratan (lingkungan sosial) di sekitarnya.

Meskipun secara alami manusia membutuhkan koneksi, mereka meyakinkan diri bahwa mereka tidak membutuhkan siapa pun untuk bertahan hidup.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Perkuat Perlindungan Generasi Muda Lewat Kolaborasi dengan Pesantren dan DKM

Karakteristik Utama yang Perlu Diwaspadai

Melansir dari Your Tango, terdapat beberapa indikator spesifik yang menunjukkan seseorang memiliki pola avoidant attachment:

  1. Kemandirian yang Berlebihan (Hyper-Independence)

Bagi mereka, mengandalkan orang lain adalah sebuah kerentanan yang berbahaya. Mereka merasa harus menyelesaikan segala masalah—baik logistik maupun emosional—sendirian.

Dalam hubungan asmara, sikap ini sering membuat pasangan merasa “tidak berguna” atau merasa tidak memiliki ruang untuk berkontribusi dalam kehidupan mereka.

  1. Membatasi Kedalaman Emosi
BACA JUGA :  Beasiswa BCA 2027 Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Beragam Fasilitas yang Ditawarkan

Individu tipe ini mungkin bisa menjalin hubungan jangka panjang, namun mereka menjaga percakapan tetap di permukaan.

Mereka sangat menghindari topik yang terlalu personal, seperti ketakutan masa depan atau luka masa lalu. Ekspresi kerinduan atau kesedihan sering kali ditekan karena dianggap sebagai tanda kelemahan.

  1. Alergi terhadap Komitmen

Ketika sebuah hubungan mulai mengarah ke jenjang yang lebih serius (seperti pernikahan atau tinggal bersama), mereka sering merasa “tercekik”.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================