
Untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut, mereka biasanya mulai mencari-cari kesalahan kecil pada pasangan atau meragukan kecocokan hubungan agar memiliki alasan untuk menarik diri.
- Sensitivitas Tinggi terhadap Kontrol
Permintaan sederhana dari pasangan, seperti “bisa beri kabar kalau sudah sampai?”, sering kali disalahartikan sebagai upaya pengekangan.
Mereka sangat protektif terhadap kebebasan individunya. Respons yang umum muncul adalah sikap dingin atau menghilang secara tiba-tiba (ghosting) untuk menegaskan kembali batasan mereka.
Mekanisme Pertahanan Saat Konflik
Saat terjadi perselisihan, orang dengan avoidant attachment jarang meledak-ledak. Sebaliknya, mereka akan:
- Menghindar: Memilih diam atau pergi dari ruangan.
- Menekan Emosi: Terlihat sangat tenang dan tidak peduli, padahal di dalam hati mereka sedang merasa kewalahan (overwhelmed).
- Menarik Diri: Menjauh secara emosional selama berhari-hari sebagai cara untuk memproses rasa tidak nyaman.
Harapan untuk Hubungan yang Lebih Baik
Perlu dipahami bahwa memiliki gaya kelekatan ini bukan berarti seseorang tidak mampu mencintai dengan tulus. Ini hanyalah sebuah mekanisme pertahanan yang biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Pola ini bisa diubah dengan kesadaran diri (self-awareness) dan keberanian untuk belajar menjadi rentan (vulnerable). Dengan komunikasi yang tepat, pasangan dapat belajar memberikan ruang bagi si “pulau” tanpa merasa ditolak, sementara si pemilik avoidant attachment dapat belajar perlahan-lahan meruntuhkan temboknya demi koneksi yang lebih bermakna.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















