
BOGORTODAY.COM – Salat dikenal sebagai tiang agama dalam Islam dan menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, terdapat sebuah kisah luar biasa tentang seorang pria yang justru dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad SAW, meskipun ia belum pernah melaksanakan salat seumur hidupnya.
Sosok tersebut adalah Amr bin Tsabit bin Waqsy, yang lebih dikenal dengan julukan Al-Ushairim. Kisahnya terjadi dalam peristiwa besar Perang Uhud dan menjadi pelajaran mendalam tentang luasnya rahmat Allah SWT.
Hidayah yang Datang di Saat Terakhir
Al-Ushairim sebelumnya dikenal sebagai orang yang berkali-kali menolak ajakan untuk memeluk Islam. Meski demikian, takdir berkata lain. Menjelang Perang Uhud, ia tiba-tiba tersentuh hidayah dan memutuskan untuk beriman.
Saat itu, ia mencari keberadaan kaumnya—termasuk Sa’ad bin Mu’adz—dan mengetahui bahwa mereka semua telah berada di Uhud bersama Rasulullah SAW. Tanpa ragu, ia pun menyusul ke medan perang setelah menyatakan keislamannya.
Membuktikan Iman di Medan Perang
Setibanya di Uhud, Al-Ushairim langsung bergabung dengan pasukan kaum muslimin. Ketika sebagian orang masih meragukannya, ia dengan tegas menyatakan bahwa dirinya telah beriman.
Tanpa menunggu lama, ia terjun ke dalam pertempuran dan berjuang dengan penuh keberanian. Ia bertarung hingga mengalami luka parah, bahkan hampir tak dikenali oleh pasukan lainnya karena kondisinya yang kritis.
Pengakuan Terakhir yang Mengantarkannya ke Surga
Setelah pertempuran usai, keluarga dari Bani Abdul Asyhal menemukan Al-Ushairim dalam keadaan terluka berat. Mereka terkejut karena sebelumnya ia dikenal sebagai penolak Islam.
Ketika ditanya apa yang mendorongnya ikut berperang, ia menjawab bahwa semua itu dilakukan karena kecintaannya kepada Islam, bukan semata-mata karena membela kaumnya.
Tak lama kemudian, ia wafat akibat luka yang dideritanya. Kisah ini pun disampaikan kepada Rasulullah SAW. Mendengar hal tersebut, beliau bersabda bahwa Al-Ushairim termasuk penghuni surga. Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa ia “beramal sedikit, namun mendapatkan balasan yang besar.”
Sahabat Abu Hurairah juga menegaskan bahwa Al-Ushairim belum sempat melaksanakan salat hingga ia wafat sebagai syahid.
Kisah Kontras: Perjuangan Tanpa Keikhlasan
Di sisi lain, terdapat kisah yang bertolak belakang dari seorang bernama Quzaman. Ia juga ikut bertempur di Perang Uhud dengan keberanian luar biasa, bahkan berhasil mengalahkan beberapa musuh.
Namun, ketika ditanya tentang motivasinya, ia mengakui bahwa ia berperang bukan karena iman, melainkan demi membela kehormatan kaumnya. Ketika luka yang dideritanya terasa semakin berat, ia akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW menyatakan bahwa jika benar demikian niatnya, maka ia termasuk golongan penghuni neraka.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Kisah Al-Ushairim dan Quzaman memberikan pelajaran penting bahwa nilai suatu amal sangat bergantung pada niat yang melatarbelakanginya. Keikhlasan menjadi kunci utama dalam menentukan nasib seseorang di akhirat.
Al-Ushairim mungkin hanya memiliki waktu singkat dalam Islam, namun ketulusan imannya mengantarkannya pada surga. Sebaliknya, perjuangan besar tanpa niat yang benar justru berujung pada kerugian.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa rahmat Allah SWT begitu luas, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah—bahkan di detik-detik terakhir kehidupannya.
Wallahu a’lam.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















