
BOGORTODAY.COM – Bagi banyak orang, melewatkan sarapan sering dianggap hal biasa, terutama saat pagi terasa terburu-buru. Bangun kesiangan, harus segera beraktivitas, atau belum merasa lapar menjadi alasan utama sarapan kerap diabaikan. Padahal, kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dengan meningkatnya risiko gangguan psikologis, khususnya pada remaja. Salah satunya berasal dari studi berjudul Association of Breakfast Consumption Frequency with Depression and Anxiety Symptoms Among School Students yang dilakukan di China Timur.
Hasil penelitian tersebut mengungkap bahwa remaja yang jarang sarapan cenderung lebih rentan mengalami gejala kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang rutin makan pagi.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian lain berjudul Breakfast Consumption and Mental Health. Studi ini menunjukkan pola konsisten bahwa kebiasaan melewatkan sarapan berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental.

Bahkan, risiko depresi pada remaja yang tidak sarapan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara risiko kecemasan dilaporkan naik hingga lebih dari 50 persen.
Kaitan antara sarapan dan kondisi mental tidak lepas dari cara kerja otak. Salah satu faktor penting adalah Serotonin, zat kimia yang berperan menjaga kestabilan suasana hati.
Serotonin terbentuk dari asam amino bernama Triptofan. Agar zat ini bisa masuk ke otak, tubuh membutuhkan bantuan Insulin yang biasanya meningkat setelah makan, termasuk saat sarapan.
Ketika seseorang melewatkan sarapan, produksi insulin tidak meningkat secara optimal. Akibatnya, triptofan sulit mencapai otak dan pembentukan serotonin bisa terganggu. Kondisi ini membuat suasana hati menjadi kurang stabil sejak awal hari, sehingga seseorang lebih mudah merasa cemas, stres, atau mengalami perubahan mood.
Selain berpengaruh pada hormon, sarapan juga berfungsi memenuhi kebutuhan nutrisi otak. Makanan seperti biji-bijian, telur, dan sayuran mengandung zat penting yang mendukung fungsi kognitif serta menjaga kesehatan mental.
Sebaliknya, tidak sarapan dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan nutrisi, yang dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi konsentrasi dan kestabilan emosi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan antara sarapan dan kesehatan mental masih bersifat keterkaitan, bukan sebab-akibat langsung. Artinya, masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan mekanisme yang lebih pasti.
Namun, temuan ini menjadi pengingat bahwa sarapan bukan sekadar rutinitas harian. Kebiasaan sederhana ini berperan penting dalam membantu tubuh dan otak memulai hari dengan kondisi yang lebih seimbang.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















