Vasektomi Bukan “Kebiri”: Memahami Kontrasepsi Pria dengan Benar

BOGORTODAY.COM – Belakangan, topik vasektomi kembali ramai dibicarakan di media sosial. Salah satu pemicunya adalah unggahan sepasang suami istri yang memutuskan menjalani prosedur ini setelah merasa jumlah anak sudah cukup dan ingin fokus membesarkannya.

Reaksi publik pun beragam. Ada yang memberi apresiasi karena dianggap sebagai bentuk tanggung jawab dalam perencanaan keluarga, namun tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan tersebut.

Beberapa komentar bahkan menyamakan vasektomi dengan ‘kebiri’, memicu perdebatan. Padahal, dari sisi medis, keduanya sangat berbeda.

Apa Itu Vasektomi?

Vasektomi adalah prosedur kontrasepsi bagi pria dengan cara menutup atau memotong saluran sperma (vas deferens). Tujuannya agar sperma tidak keluar saat ejakulasi sehingga mencegah kehamilan.

Prosedur ini tergolong sederhana dan minim risiko. Biasanya dilakukan dengan anestesi lokal, tanpa perlu rawat inap, dan pasien dapat pulang pada hari yang sama. Tingkat keberhasilannya sangat tinggi, hampir 100 persen dalam mencegah kehamilan.

Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah tentang sperma yang tidak keluar. Dokter spesialis urologi Nur Rasyid dari RSCM menjelaskan, sperma yang tidak dikeluarkan tidak menumpuk di tubuh.

BACA JUGA :  Uban Muncul di Usia Muda? Ini Berbagai Faktor yang Bisa Menjadi Penyebabnya

“Sperma akan rusak dan diserap kembali oleh tubuh,” ujarnya, sejalan dengan penjelasan Cleveland Clinic yang menyebut tubuh mendaur ulang sel sperma seperti sel tubuh lainnya.

Perbedaan Vasektomi dan Kebiri

Miskonsepsi umum adalah menyamakan vasektomi dengan kebiri. Padahal keduanya berbeda dari tujuan dan efeknya.

Nur Rasyid menegaskan, vasektomi hanya menutup jalur sperma, sementara fungsi testis tetap normal. Produksi hormon testosteron berjalan sebagaimana mestinya, sehingga pria masih dapat mengalami ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

Sebaliknya, kebiri bertujuan menghentikan fungsi testis sepenuhnya, baik secara bedah maupun kimiawi. Akibatnya, hormon testosteron bisa hilang, memengaruhi libido, fungsi seksual, dan perubahan fisik lainnya.

Apakah Bisa Dibatalkan?

Secara teori, vasektomi bisa dikembalikan melalui prosedur penyambungan saluran sperma, meski tingkat keberhasilannya tidak selalu pasti dan biayanya cukup tinggi. Alternatif lain adalah program bayi tabung (IVF) dengan pengambilan sperma langsung dari testis. Oleh karena itu, vasektomi biasanya disarankan bagi pria yang sudah yakin tidak ingin memiliki anak lagi.

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Prosedur ini termasuk aman, dengan efek samping umumnya ringan, seperti nyeri, bengkak, atau memar di area skrotum. Komplikasi serius jarang terjadi, hanya sekitar 1-2 persen mengalami nyeri jangka panjang. Namun, vasektomi tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap dianjurkan dalam situasi tertentu.

Pilihan Pribadi yang Perlu Pertimbangan Matang

Perdebatan publik menunjukkan masih banyak kesalahpahaman tentang vasektomi. Padahal, secara medis, metode ini aman, efektif, dan tidak mengurangi kejantanan pria.

Keputusan untuk menjalani vasektomi adalah pilihan pribadi yang sebaiknya dipertimbangkan secara matang, baik dari sisi medis, perencanaan keluarga, maupun kesiapan mental. Memahami informasi yang benar membantu mengurangi stigma dan membuka ruang diskusi lebih sehat terkait kesehatan reproduksi pria.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================